Kedekatan Allah dan Realisasi Keimanan ( Tafsir Al hadid 5-7)

Allah menjelaskan tentang dirinya dari ayat satu sampai ayat empat bahkan sampai ayat-ayat barikutnya, pada bagian akhir ayat empat “dan dia (Allah) bersamamu dimanapun kamu berada,” begitulah kenyataannya yang seharusnya orang-orang beriman menyadarinya sebagai pendekatan Allah dengan manusia baik dalam maiyatul ilm, pendekatan Allah dalam artian pengetahuan Allah mencakup seluruh aktivitas kita, tidak ada bagi Allah yang tersembunyi, atau maiyatul himayah, ataupun maiyatunnasr, kebersamaan Allah dalam aritian perlindungan dan rahmatNya, bantuannya pada orang-orang yang beriman dan Allah sangat sayang pada orang-orang yang beriman.

Pengetahuan akan maiyah Allah ini akan membangkitkan kesadaran kita bahwa Allah mengetahui apa yang kita lakukan dan Allah selalu dekat dengan kita, kalau kesadaran ini ada dalam hati dan pikiran kita maka akan melahirkan sikap ihsan dalam segala perbuatan kita, jangankan kesadaran dan taunya kita bahwa kita dilihat Allah yang ringan saja misalnya seseorang ketika dibelakangnya ada ustadznya maka ibadahnya akan bertambah baik, akhlaq dan prilakunya bertambah sopan, malu rasanya kalu dilihat kiainya belum nampak baik ibadahnya belum nampak dewasa prilakunya, apalagi kesadaran itu dirinya dilihat Allah swt.

Sikap ihsan ini diisyaratkan Rasululllah saw, dalam hadits Jibril seperti dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya “Ketika Rasulullah ditanya tentang ihsan oleh Jibril maka Rasulullah menjawab ‘kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya dan jika kamu tidak melihatnya sesungguhnya Allah meliahatmu,” sebenarnya manusia tidak bias meliaht Allah, seperti yang dikatakan Allah kepada Nabi Musa AS, ‘selamamnya didunia kamu tidak akan meliahtku’. Tapi manusia harus yakin bahwa Allah melihatnya kesadaran seseorang ini akan melahirkan sikap ihsan dalam prilaku dan perbuatannya dan Hendaknya seorang Mukmin memiliki rasa malu dan rasa itu melekat dirinya, karena Allah selalu bersamanya.

Dijelaskan dalam oleh Ibnu Katsir, kata Umar ada seseorang yang datang kepada Rasulullah meminta petunjuk, “bekalilah aku dengan kalimat hikmah yang akan kujadikan sebagai pegangan hidupku,’ lalu Rasul menjawabnya, ‘malulah kamu kepada Allah seperti seseorang malu dari keluarganya yang soleh dan memperhatikannya tidak pernah lepas,” Karena kita sudah cendrung pada pola pikir materialis biasanya kita malu kepada manusia tapi ketika ada Allah dan malaikat yang mendampingi kita, tidak merasa malu, manusia walau tak pernah lepas disaat tertantu pasti jauh dari kita, tapi Allah selalu bersama kita dimanapun berada dan Allah maha melihat dan mengetahui.

Ada sutu hadits marfu’ dari Abdullah bin Alwiyah Al Amilin, “Ada tiga hal yang barang siapa bisa merelaisaikannya dia akan merasakan nikmatnya beribadah yaitu selalu beribadah hanya kepada Allah, selalu berinfaq dan selalu mensucikan dirinya” orang bisa melakukan iu kalau dia merasa diperhatikan Allah.

Satu lagi hadits yang harus menjadi pegangan hidup kita, dari Ubadah bin Shomit katanya Rasulullah bersabda “sesunguhnya iman yang paling afdhol kamu sadar bahwa Allah selalu beersamamu dimanapun kamu berada” kalau bahasanya Sayid Qutub disebut  imam hayi (iman yang hidup, iman yang membangkitkan kesadaran) kalau kesadaran ini ada ibadah kita selalu maksimal dan diri kita selalu terhindar dari berbagai penyimpangan, itu pula yang dinasihatkan Rasulullah kepada seorang sahabat yang baru beberapa hari mengaji dengannya kata Rasulullah “sekarang kamu pulang kampung dan berdakwah untuk seluruh masyarakat disitu”, sahabat yang baru beberapa kali bertemu dan merasa bekalnya belum banyak dan dia ingin berlama-lama bersama Rasulullah, tapi Rasulullah berkata lagi “sekarang aku bekali lalu kamu pulang, takutlah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, sertakanlah perbuatan yang baik atas perbuatan yang buruk, sehingga perbuatan yang baik menghapus yang buruk tadi, bergaullah dengan manusia dengan baik.

”Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan”

Ayat lima ini Masih menjelaskan tentang sifat-siafat Allah, kalau ujung ayat empat wallahu bima ta’maluna basyir, maka ayat kelimanya Lahu mulku samaawaati wal ardli (milik Allahlah kekuasaan dilangit seluruhnya dan juga dibumi) segalanya itu milik Allah. Karenanya Allah disebut juga Malikulmulki (pemilik seluruh kekuasaaan), dalam do’a pagi dan sore “Katakanlah: Wahai Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki..” sekalipun orang mempertahankannya kalau Allah ingin mencabutnya dia tidak akan bisa apa-apa.

“Dan kepada Allahlah segala urusan itu dikembalikan”

segalanya akan kembali kepada Allah termasuk kita, ketika Allah mengambil apa yang dimilikinya itu yang kita mengkalaim miliki kita atau yang Allah titipkan kepada kita, maka diharuskan membaca kalaimat isti’jal inalillahi wainnailahi raji’un diayat ini dikatakan “dan kepada Allah segala hal itu dikembalikan” termasuk diri kita, makanya didalam surat Al Jumu’ah Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Karenanya kesadaran ini kalau Allah meinginginkan milikNya kita dengan ridho melepasnya, “Katakanlah siapa yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik Allah akan ganti” padahal yang dipinjamkan itu milik Allah, tapi kasih sayangnya Allah kalau kita meminjamkan diganti dengan berlipat ganda tapi sekalipun begitu tetap saja manusia merasa berat karena terkait dengan materi dan kenikmatan. Hendaknya pendekatan kita bagaimana bisa menikmati bukan bagaimana harus memikinya.

“Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.”

Bumi kitakan berpuatar pada porosnya dan pada saatnya yang sama berpuatar mengelilingi matahari, yang menghadap matahari itu kebagian sianng dan yang membelakanginya kebagian malam. Dialah Allah yang memutar dan perputaran itulah yang kemudian melahirkan gravitasi, kalau senadainya tidak ada tarikan itu kita akan lepas, jangankan untuk makan untuk bertahan pada permukaan bumi itu susah, bagaimana kalau Allah menjaadikan malam itu terus menerus maka bumi akan kedinginan dan membeku, atau siang terus menerus maka bumi akan sangat panas.

“Dan dia maha tau apa yang ada didalam dada”,                                                                           

Kata Ibnu Katsir betapapun tersembunyi, tidak ada yang lepas dari pengetahuan Allah bahkan yang ada didalam lubuk hati kita, Cuma saja kalau keburukan masih dihati kita belum terekspresiakn itu belum bernilai negatif kalau sadah bunyi itu bernilai negatif sekalipun perkataan itu benar, makanaya ketika Rasulullah mengingatkan tentang gibah dia bersabda ”Engakau menyabutkan tentang aib saudaramu walau benar, tapi kalau menyebutkan tidak sesuai itu kebohongan”.

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.”

Setelah dijelaskan tentang kekuasaan Allah maka ayat tujuhnya dinyatakan tentang iman kepada Allah, ini salah satu metode yang dalam Al Qur’an setelah diceritakan tentang sifat dan kekuasaan Allah baru dijelaskan perintah untk beriman dan merealisasikan keimanan, sehingga keimanan kita berdasarkan kesadaran bukan hanya sebuah dogma.

Berimanlah kepada Allah dan rasunya yang telah menyamapiakan wahyu ini kepada kita, maka ketika diperintahkan untuk beriman maka dituntut pula untuk meralisasikan keimanan itu dengan ungkapan dan berinfaqlah. Pada masa Rasulullah ada seorang sahabat yang sudah paham tentang Islam, lalau dia ingin menyatakan komitmen keislamannya, dia katakana ”ya Rasulullah saya menyatakan keislaman dan saya akan komitmen menjalankan seluruh atuaran islam itu, Cuma saya minta dispensasi dua, minta keringananan karena alasananya ada pada diri saya yang pertama saya minta dispensasi untuk tidak berinfaq, karena saya orang miskin, kedua saya minta dispensai untuk tidak berjuang sebab saya ini penakut, kalau berjihad saya akan lari  dari medan jihad itu padahal dari medan perang itu dosa besar, kata Rasulullah tidak sodaqoh tidak berjuang kamu mau masuk sorga dengan apa lagi,” Rasul tidak terima Islam yang parsial, Islam itu harus menyeluruh.

Biasanya setelah menyebutkan keimanan dilanjutkan dengan perintah untuk berinfaq karena keimanan itu hubungan pertikal pada Allah dan infaq itu adalah hubungan horizontal pada manusia, karenanya ketika menyatakan keTuhanan dan sifat-sifatnnya lalu Allah lanjutkan berimanlah dan berinfaqlah dari sebagian yang dititipkan kepada kamu.

Manusia adalah kholifah yang artinya pengemban amanat dari Allah, manakala ada perintah beriman dan berinfaq,  maka kita harus segera berinfaq karena infaq itu merupakan kebutuhan kita bukan kewajiban, dan balasanya akan berlipat ganda, maka orang yang beriman dan berinfaq diantara kamu mereka mendapatkan balasan yang sangat besar kalau kita  baca kabirr itu mad aridl lisukun, maka dibacanya kabirrrrrrrrrrr, yang artinya besarrrrrrrrr, orang yang beriman dan berinfaq itu mendapatkan pahala yang sangat besar.

sumber : http://www.layananquran.com

About evadailami

Hamba Allah yang ingin banyak belajar dari kalian

Posted on October 4, 2012, in Al Qur' An. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: