KUMPULAN KATA MUTIARA

Indahnya Wajah dan Bagusnya Akhlak
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:”Hendaklah bagi para pemilik wajah yang rupawan untuk tidak memperburuknya dengan perilakunya yang buruk, dan hendaknya bagi yang memiliki wajah yang buruk untuk tidak menggabungkan dua keburukan dalam dirinya (keburukan rupa dan perilaku).” (Al-Adab asy-Syar’iyyah: 3/125)
Wasiat pembawa keselamatan
Hakim berkata kepada anaknya:Wahai anakku, aku akan berwasiat kepadamu dengan beberapa hal, jagalah wasiat-wasiat tersebut niscaya engkau selamat; jangan engkau bergabung dnegan pencemburu buta, jangan tingga dengan pendengki, jangan bertetangga dengan orang bodoh, jangan bersaudara dengan orang yang riya dan jangan bersahabat dengan orang yang pelit.” (Nashaaih al-Imaniyah)
Kesalahan dalam ijtihad
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:”Jika salah seorang imam keliru dalam berijitihad, maka tidak sepantasnya kita melupakan kebaikan-kebaikannya dan menutup ilmu pengetahuannya, akan tetapi ita memintakan ampun untuknya dan memaafkannya.” (Siyar A’laamin Nubala 18/157)
Tanda Berpalingnya Allah Ta’ala dari Hamba

قال الحسن : من علامة إعراض الله عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه .
Al-Hasan pernah berkata, “Diantara tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah Dia menjadikan kesibukan (hamba tersebut) dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.”

Jangan Mencela dan Mengajak Debat Kepada Temanmu

إذا احببت أخاً في الله فلا تماره ولا تشاره ( أي لا تجادله ولا تعيبه ) ولا تسأل عنه أحداً فلربما أخبرك بما ليس فيه فحال بينك وبينه – معاذ بن جبل رضي الله عنه.

“Apabila engkau mencintai saudaramu (temanmu) karena Allah, maka janganlah engkau mencelanya, janganlah engkau mengajaknya debat, jangan pula engkau menanyakan tentangnya kepada seseorang karena bisa jadi dia akan mengkhabarkan kepadamu sesuatu yang tidak ada pada diri temanmu tersebut, maka akan ada penghalang antara dirimu dengan dirinya.” (Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu)

Bahaya Menyia-Nyiakan Waktu
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Menyia-nyiakan waktu adalah lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan hari Akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari Dunia dan penghuninya.”
Bid’ah Pertama Setelah Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Bid’ah pertama yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: bid’ah kenyang, sesungguhnya suatu kaum ketika perut-perut mereka telah kekenyangan maka hati-hati mereka menjadi tunduk dan condong kepada Dunia.”
Berbanggalah dengan Mendiamkan Lisan
Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku apabila manusia berbangga dengan ucapan-ucapan mereka, maka berbanggalah engkau dengan berdiam diri (membiarkan lisan tidak berbicara kecuali kebaikan), lisan berkata setiap pagi dan petang kepada anggota tubuh lainnya: Bagaimana keadaan kalian? Maka mereka menjawab, “kami senantiasa dalam kebaikan jika engkau meninggalkan kami”.
Hasad, tidak sabar dan buruknya akhlak
‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada ketentraman bagi orang yang suka hasad (pendengki), tidak ada persahabatan bagi orang yang kurang penyabar (cepat bosan), dan tidaklah ada orang yang senang kepada orang yang buruk akhlaknya.”
Hasad adalah Dosa Pertama di Lagit dan Bumi
Sebagian Ulama Salaf rahiamhumullah berkata, “ Hasad adalah dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Langit, yaitu hasadnya Iblis kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, dan hasad adalah juga dosa pertama yang dengannya Allah Ta’ala dimaksiati di Bumi, yaitu hasadnya anak Adam kepada saudaranya sehingga ia membunuhnya.”
Memuliakan Ulama dan Umara
Sahl bin ‘Abdillah at-Tasturi rahimahullah Ta’ala berkata:”Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama memuliakan pemimpin dan ‘Ulama. Maka jika mereka memuliakan keduanya niscaya Allah akan memperbaiki dunia dan Akhirat mereka dan jika mereka meremehkan keduanya, maka mereka telah merusak dunia dan Akhirat mereka.” (Tafsir al-Qurthubi)
Jauhilah Menunda-Nunda Amal Perbuatan
Al-Hasan rahimahullah berkata, “jauhilah oleh kalian menunda-nunda (amal perbuatan), karena sesungguhnya engkau adalah dengan harimu (hari dimana engkau menemuinya), dan bukan dengan hari besokmu; dan jika engkau berada pada hari esokmu maka jadikanlah hari itu sebagaimana hari dimana engkau berada, sehingga jika engkau tidak menemui hari esok engkau tidaklah menyesal dari apa yang lewatkan di hari itu.”
Ijtihad Pelaku Bid’ah

Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pelaku bid’ah itu semakin menambah ijtihadnya atau kesungguhannya dalam (kebid’ahannya) melainkan hal itu akan semakin menjauhkan dirinya dari Allah ‘Azza wa Jalla”. [Talbis Iblis, karya Ibnul Jauzi rahimahullah, hal: 22]

Kalian Penghilang Kesedihanku
Syu’bah radhiyallahu ‘anhu berkata:”Suatu hari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu keluar menemui shahabat-shahabatnya, lalu berkata:’kalian adalah penghilang kesedihanku.'” (Al-Ikhwan, Ibnu Abi Dunya)
Bersalaman
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:”Saling bersalaman (dengan seama jenis) menambahkan rasa cinta.” (Al-Muntaqa min Kitabi Makarimil Akhlaq)
Mayat Hidup
Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu ketika ditanya tentang mayat yang hidup, beliau berkata, “Yaitu orang yang tidak mengingkari kemungkaran yang ada dihadapannya dengan tangannya, tidak pula dengan lisannya, dan tidak juga dengan hatinya.”
Rasa takut yang membawa kepada kebaikan
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah Ta’ala niscaya rasa takut tersebut akan menuntunnya kepada setiap kebaikan.”
Wasiat Ibnu ‘Abbas
‘Utsman bin Hadir rahimahullah berkata:”Aku menemui Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, lalu kau berkata:”Berilah aku wasiat.” Maka beliau berkata:”Ya, hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan beristiqomahlah. Ikutilah sunnah (Itiba’) dan janganlah membuat bid’ah.” (Riwayat Imam ad-Darimi rahimahullah)
Berbicara adalah Ibarat Obat
‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu berkata, “Berbicara adalah ibarat obat, jika engkau menyedikitkannya (menggunakan sesuai dosisnya) maka ia akan memberikan manfaat, dan jika engkau memperbanyak darinya (melebihi dosis) maka ia mematikan.”
Meraih Derajat Surga Tertinggi dengan Berakhlak Mulia
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya seorang hamba dapat mencapai derajat tertinggi di dalam surga dengan berakhlak mulia walaupun dia bukan seorang ahli ibadah, dan seorang hamba akan mendapatkan tempat terendah di neraka jahannam akibat akhlak buruknya walaupun dia seorang ahli ibadah.”
Perbedaan antara Yakin dan Tawakkal

Ditanyakan kepada sebagian ahli hikmah, ‘Apa perbedaan antara yakin dan tawakkal…?’ mereka menjawab, “Adapun yakin adalah engkau membenarkan Allah Ta’ala tentang perkara-perkara yang menyebabkan teraihnya Akhirat, sedangkan Tawakkal adalah engkau membenarkan Allah Ta’ala tentang perkara-perkara yang menyebabkan teraihnya dunia.”

Pentingnya Memiliki Akhlak Mulia
Fudhail Ibn ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sungguh seorang fajir (pelaku maksiat) yang berakhlak mulia menemaniku lebih aku sukai dari pada seorang ‘abid (pelaku ibadah) yang buruk akhlaknya menemaniku..”
Perbedaan antara Dermawan dan Bakhil
Sebagian Ulama Salaf berkata, “Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah Ta’ala, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka; dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah Ta’ala, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka”.
Bahaya Meninggalkan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
“Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata, “Menyerulah kalian kepada yang ma’ruf dan cegahlah oleh kalian perbuatan mungkar, atau Allah akan menjadikan pemimpin bagi kalian seorang pemimpin yang zhalim; tidak dimuliakan orang-orang tua diantara kalian dan tidak disayangi anak-anak kecil (yang lebih muda) diantara kalian; orang-orang baik (shalih) diantara kalian berdoa kepadaNya akan tetapi tidak diijabahi; kalian meminta pertolongan maka kalian tidak ditolong; dan kalian meminta ampunan maka tidaklah diampuni.”
Alqur’an Menunjuki kalian Penyakit dan Obatnya
Qotadah rahimahulah berkata, “Al-Qur’an menunjukkan kepada kalian atas penyakit kalian dan obatnya; adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa sedangkan obatnya adalah istighfar”.
Buah ilmu dan Buah Kejahilan
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seluruh apa-apa yang tersebut dalam al-Qur’an berupa pujian kepada seorang hamba hal itu adalah buah dari ilmu, dan seluruh apa-apa yang tersebut dalam al-Qur’an berupa celaan kepada seorang hamba itu adalah buah dari kejahilan (kebodohan)”.
Menghadap Allah dengan Menghadirkan Hati

Haram bin Hayyan rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba menghadap Allah Ta’ala dengan menghadirkan hatinya, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan menghadapkan kepadanya hati kaum mukminin hingga Allah memberikan kecintaan mereka kepadanya”

Menasehati dengan cara tersembunyi
Dahulu para salaf apabila ingin menasehati seseorang maka mereka akan menasehatinya secara sembunyi-sembunyi, sampai sebagian mereka berkata: “Barangsiapa yang menasehati saudaranya antara dirinya dengan saudaranya (secara pribadi) maka dia telah memberi nasehat, dan barangsiapa yang menasehatiinya di hadapan orang banyak maka dia hanyalah ingin mencelanya.”(Al-‘Arba’uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 109)
Cinta Butuh Bukti

Rabi’ bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 559).

Lidah
Fudhail rahimahullah berkata: “Tidak ada organ tubuh yang paling dicintai oleh Allah dibandingkan lidah apabila dia jujur, dan tidak ada organ yang paling dibenci oleh Allah dibandingkan lidah apabila dia pendusta.”
Meluruskan Niat
Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati seorang hamba berhenti dari keinginannya, jika keinginan tersebut dalam rangka untuk Allah maka ia melakukannya, dan jika hal tersebut dalam rangka untuk selain Allah maka ia menundanya (meninggalkannya)”.
Manusia Diciptakan Memiliki Aqal dan Syahwat
Sebagian Ulama salaf mengatakan, “Allah Ta’ala menciptakan malaikat dan memberinya akal tanpa syahwat, menciptakan hewan dan memberinya syahwat tanpa akal, dan Allah menciptakan anak Adam dan memberinya akal dan syahwat, maka barangsiapa sisi akal sehatnya mendominasi syahwatnya maka ia menyerupai malaikat, dan barang siapa yang syahwatnya lebih dominan dari pada sisi akal sehatnya maka ia menyerupai hewan.”
Ghibah
Dikatakan kepada al-Hasan al-Bashri rahimahullah: “Sesungguhnya Fulan telah mengghibahmu (menggunjing).” Maka beliaupun memberikan hadiah kepada yang menggunjing beliau semangkuk ruthab (kurma segar), kemudian laki-laki itu datang dan berkata kepada beliau: ‘Aku telah menggunjingmu, tapi engkau malah memberi hadiah kepadaku?’ Maka al-Hasan berkata: ‘Engkau telah menghadiahiku, maka aku ingin membalasnya.'”(Al-‘Arba’uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 137-138)
Wasiat Seorang Wanita Badui
Al-‘Utabi rahimahullah berkata:”Aku mendengar seorang perempuan Arab badui berwasiat kepada anaknya: ‘wajib bagimu menjaga rahasia, dan jauhilah olehmu adu domba, karena sesungguhnya dia tidak membiarkan kecintaan kecuali akan merusaknya dan tidaklah membiarkan rasa dendam kecuali akan dibakarnya.” (Al-‘Arba’uuna Haditsan fii al-Akhlaq hal 140)
Duduk-Duduk Bersama Ahlul Bid’ah
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Janganlah kalian duduk-duduk bersama ahlul ahwaa’ (ahli bid’ah) karena sesungguhnya duduk-duduk bersama mereka adalah penyebab sakitnya hati.”
Taubat Nasuha
Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi rahimahullah berkata: “Taubat yang benar terkumpul di dalamnya empat hal: istighfar dengan lisannya, meninggalkan dosa dengan badannya, meniatkan untuk tidak mengulanginya dan meninggalkan teman-teman buruknya.” (an-Nadhratu an-Na’im)
Kebathilan Penyebab Munculnya Kerusakan
Imam Malik rahimahullah berkata : “ Apabila nampak kebathilan di atas kebenaran maka niscaya akan tampaklah kerusakan di muka bumi”.
Hakekat Cinta Allah
Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata: “Telah berdusta orang yang mengaku mencintai Allah akan tetapi tidak menjaga aturan-aturan Allah.”(al-Arba’uuna haditsan fii al-Akhlaq hal.30)
Saudara Sejati

Bilal Bin Sa’id rahimahullah berkata: “Seorang saudara yang ketika berjumpa denganmu ia mengingatkanmu akan kewajibanmu kepada Allah ‘Azza Wajalla adalah lebih baik bagimu daripada seorang sudara yang ketika bertemu denganmu ia memberikan uang dinar kepadamu” (Az-Zuhd, karya Imam Ahmad, hal: 533)

Dinar Dirham Adalah Berhala
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Setiap ummat memiliki berhala yang disembah, dan berhala ummat ini adalah Dinar (uang dari emas) dan Dirham (uang dari perak).”(Al-Adab asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih jilid 3 hal 291)
Harta
Hasan al Bashri rahimahullah berkata:”Kalau engkau ingin melihat dari mana seseorang mendapatkan harta, maka lihatlah untuk apa dia membelanjakkan harta tersebut. Karena sesungguhnya harta yang kotor dibelanjakkan untuk perbuatan hura-hura.”(al-Amtsal wal Hikam 264)
Kelapangan Rizki
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:”Bukanlah kelapangan rizki dan pekerjaan dilihat dari banyaknya, dan bukan pula panjangnya umur dilihat dari banyaknya bulan dan tahun, akan tetapi kelapangan rizki adalah dengan adanya keberkahan di dalamnya.”(Ad-Daa’ wa ad-Dawaaa’ hal.132)
Fungsi Bintang
Imam Qatadah berkata: Allah Ta ‘ala menciptakan bintang-bintang untuk 3 tujuan; sebagai perhiasan langit, pelempar syaithan, dan sebagai petunjuk, maka barangsiapa yang mena’wilkannya selain 3 hal di atas maka ia telah salah, menghilangkan kebahagiaannya dan membebani diri dengan ilmu yang tidak diketahuinya.”
(Shahih al-Bukhari)
Teman yang buruk
‘Ali radhiyallahu berkata: ”Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang terkumpul dalam dirinya sifat-sifat berikut; Apabila dia berbicara berdusta kepadamu, apabila engkau memberinya amanah dia mengkhianatimu, apabila dia memberimu amanah dia akan menuduhmu, apabila engkau memberi kebaikan kepadanya dia mengingkari kebaikanmu, dan bila dia memberikan kebaikan kepadamu dia akan mengungkit-ungkitnya.”(al-Adab asy-Syar’iyyah Ibnu Muflih hal 537)
Hati yang penuh keimanan
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Tiga hal yang apabila berada dalam diri seseorang, Allah akan memenuhi hatinya dengan keimanan: Bersahabat dengan orang faqih, membaca al-Qur’an dan berpuasa.”(al-Aadab asy-Syar’iyyah Ibnu Muflih jilid 3 halaman 544)
Bahaya Sombong dan Takabbur 
Abu Hatim Al-Bastiy rahimahullah mengatakan, “Tidaklah saya melihat seorangpun yang takabbur (sombong dan membanggakan diri) terhadap orang yang dibawahnya (status sosialnya) melainkan pasti Allah Ta’ala memberikan bala’ kepadanya dengan kehinaan terhadap orang yang diatasnya (status sosialnya)”. (Raudhatul ‘Uqalaa’, karya Ibnu Hibban : 62)
Hari-Hari yang Paling Utama di Dunia
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang sepuluh hari pertama di bulan Dzul Hijjah dan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan mana yang lebih utama di antara keduanya..? beliau rahimahullah menjawab, “Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, dan malam-malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan adalah lebih utama daripada malam-malam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah”.
Kebebnaran dan Pengamalan
Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah orang yang berkata kebenaran dan mengamalkannya lebih baik daripada orang yang mendengarkan kebenaran lalu menerimanya.” (al-Adab asy-Syar’iyyah Ibnu Muflih)
Ulama yang Sesungguhnya
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Demi Allah, Bukanlah seorang yang ‘alim (ulama) itu adalah orang yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, akan tetapi orang yang ‘alim itu adalah: ‘Orang yang mengetahui kebaikan kemudian ia mengikutinya (mengamalkan kebaikan tersebut), dan mengetahui keburukan lalu ia meninggalkan keburukan tersebut karena Allah Ta’ala’.” (Az-Zuhd, karya Imam Ahmad, hal: 246)
Bakhil
Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu’anhuma ditanya tentang bakhil/pelit, maka beliau menjawab : ”Yaitu seseorang menganggap bahwa apa yang dia infakkan adalah sirna (tidak mendapat pahala) dan apa yang dia tahan (tidak diinfakkan) adalah kemuliaan.”(Al-Adab asy-Syar’iyah Ibnu Muflih)
Hasad
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Setiap orang aku bisa membuatnya ridho/rela kepadaku kecuali orang hasad, karena sesunnguhnya tidak ada yang bisa membuat dia ridho kecuali hilangnya nikmat yang ada padaku.”
Hamba Allah Paling Baik
Dikatakan kepada Sa’id bi Jubair rahimahullah: ”Siapa hamba Allah yang paling baik?” Beliau menjawab: ”Seorang laki-laki yang melakukan dosa dan setiap kali mengingat dosanya dia menganggap kecil amalan ibadahnya”
Berkhalwat dengan Wanita Bukan Mahram
Umar bin Abdul ‘Aziz Rahimahullah berkata : “Jauhilah olehmu berkhalwat (bersepi-sepi) dengan seorang wanita yang tidak ada mahramnya, walaupun hatimu berkata kepadamu agar engkau mengajarinya al-Qur’an”. (Siratu Umar, karya Ibnul Jauzi rahimahullah : 159)
Orang Ikhlas
Seringkali Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mencela dan memaki dirinya dengan mengatakan: ”Engkau berbicara dengan ucapan orang shalih yang taat lagi rajin beribadah, dan engkau melakukan perbuatannya orang-orang fasik yang munafik serta riya. Demi Allah ini bukanlah termasuk sifat-sifat orang yang mukhlish (ikhlash)”
Hakekat Ilmu
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat (hafalan hadits), akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, syaratnya ittiba’ (meneladani Nabi), dan menjauhi hawa nafsu dan bid’ah.”
Alim Rabani
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ”Alim Rabbani adalah yang mengajari manusia ilmu (masalah) yang kecil sebelum mengajari masalah yang besar.”
Syahwat Tersembunyi
Ibnul Atsir rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya syahwat yang tersembunyi adalah keinginan agar amalanya dilihat oleh manusia.”
Ketenaran
Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata: ”Tidak bertaqwa kepada Allah siapa yang menyukai ketenaran.”
Berpikir Sebelum Melangkah
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: ”Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak (untuk berfikir) pada keinginannya, apabila keinginannya karena Allah maka dia mengerjakannya dan apabila karena selainnya maka dia mengurungkannya.”
Nafsu dan Agama
Mujahid rahimahullah berkata: ”Barang siapa mengagung-agungkan nafsunya dia telah menghinakan agamanya, dan siapa yang menundukkan nafusnya dia telah memuliakan agamanya.”

Karunia Allah Kepada Orang Berilmu

Salah sorang salaf berkata: ”Sesungguhnya ilmu adalah karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dicintai dari hambanya, dia tidak didapatkan karena keturunan (nasab), seandainya dia didapatkan karena keturunan maka manusia yang paling pantas mendapatkannya adalah keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Menjaga Muru’ah
Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata: ”Demi Allah seandainya aku mengetahui kalau meminum air dingin bisa merusak nama baikku, maka aku tidak akan meminum kecuali air panas.”

Ciri Pendusta

Imam Syafi’i berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Bagaimana engkau mengetahui para pendusta?” Beliau menjawab : ”Dari janji-janji mereka.”
Balasan Orang yang Tunduk Kepada Allah
Al-Haram bin Hayyaan berkata: ”Tidaklah seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, melainkan Allah akan menghadapkan hati-hati orang yang beriman kepadanya sampai Allah memberikan rizki kepadanya berupa kecintaan mereka kepadanya (kepada hamba tersebut)”
Tiga yang Merusak

Diriwayatkan bahwa Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata : “Ada tiga yang bisa merusak manusia : para pemimpin yang menyesatkan, debatnya seorang munafik menggunakan Alqur’an (sedangkan Alqur’an adalah haq) dan kesalahan seorang alim”

Agar Ilmu Menjadi Indah 

Imam Syafi’i Rahimahullah pernah berkata : “Tidaklah ilmu itu menjadi indah dan baik kecuali dengan tiga perkara : taqwa kepada Allah, mengamalkan Sunnah dan khosyyah (takut kepada Allah)”

Alim Adalah Dokternya Umat 
Imam Tsauri Rahimahullah pernah berkata : “Seorang alim adalah dokternya umat ini sedangkan harta adalah penyakitnya. Apabila seorang dokter mengambil penyakit untuk dirinya lalu bagaimanakah ia mengobati orang lain?”
Alim yang Tawadhu’ 
Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah pernah berkata : “Sesungguhnya Allah mencintai seorang alim yang tawadhu’ dan membenci seorang alim yang sombong”
Penyakit, Pemberi Pelajaran

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata : “Penyakit-penyakit hanyalah dijadikan sebagai pemberi pelajaran bagi hamba, tidak semua orang yang sakit itu meninggal”

Tanda Kebahagiaan

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata : “Tanda kebahagiaan adalah keyakinan di hati, wara’ dan zuhud dari dunia, malu dan berilmu”

Hakikat Akhlaq yang Baik
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Hakikat akhlaq yang baik adalah mencurahkan segala kebaikan dan menjaga diri dari segala keburukan dan wajah yang berseri”
Rendah Diri Terhadap Kebenaran
Luqman al-Hakim berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, rendah dirilah terhadap kebenaran, niscaya kamu menjadi orang yang paling berakal”
Keutamaan Lapar dan Bangun Malam

Diriwayatkan bahwa Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata : “Laparlah kamu di siang hari dan bangunlah menjelang fajar, niscaya kamu melihat keajaiban dari Sang Maha Raja lagi Maha Kuasa”

Hal Yang Membuat Bosan

Al Mubarrid rahimahullah pernah berkata : “Barangsiapa yang memanjangkan ceramahnya dan melamakan perkataannya sungguh dia bisa membuat kebosanan dan membuat perkumpulan menjadi tidak baik”

Debat Agama
Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Berdebat dalam masalah agama membuat hati keras dan melahirkan kebencian”
Hati Yang Selalu Merasa Cukup
Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Selagi anda mempunyai hati yang selalu merasa cukup, maka anda dan raja dunia adalah sama”
Orang Kaya Sebenarnya
Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Orang kaya yang sebenarnya adalah yang kaya dengan keadaannya, bukanlah orang kaya itu karena kekayaan dan hartanya”
Ahli Fiqih Sejati

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Sesungguhnya ahli fiqih adalah yang ahli dalam perbuatannya dan bukanlah ahli fiqih yang ahli dengan perkataan dan penjelasannya saja”

Amalan Yang Paling Berat
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata : “Amalan yang paling berat ada pada tiga : menderma dari yang sedikit, wara’ pada waktu menyendiri dan berkata yang benar kepada orang yang diharapkan dan ditakuti”
Ilmu Adalah Ilmu Yang Bermanfaat

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata : “Ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, bukanlah ilmu yang hanya dihafal”

Lemah Namun Sombong

Muhammad ibn Ali ibn Husain pernah berkata : “Sungguh mengherankan bagi orang yang angkuh dan membanggakan dirinya, yang dimana ia diciptakan dari setetes mani kemudian ia menjadi mayat yang busuk dan setelah itu dia tidak tahu akan diapakan dia”

Amalan Tanpa Ikhlas

Ibnu al-Qoyyim rahimahullah berkata : “Amalan tanpa adanya ikhlas dan tanpa mengikuti Rasul -shallahu ‘alaihi wasallam- seperti seorang musafir yang mengisi kantongnya dengan pasir, memberatkannya namun tidak bermanfaat baginya”

Hikmah, Tafakkur dan Ibrah

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Barangsiapa yang perkataannya tidak mengandung hikmah maka itu adalah main-main, barangsiapa yang diamnya bukan tafakkur maka itu adalah kelalaian dan barangsiapa yang pandangannya bukan untuk mencari ibrah maka itu adalah kesia-siaan”

Kufur Nikmat Terhadap Kebaikan Manusia

Ibnu Atsir rahimahullah berkata : “Barangsiapa yang kebiasaan dan tabi’atnya mengingkari nikmat dari manusia dan tidak berterima kasih kepada mereka, maka menjadi kebiasaannya pula kufur terhadap nikmat Allah dan tidak bersyukur kepadaNya ”

Ingatlah Selalu Kepada Allah

Salman al-Farisi radiyallahu ‘anhu berkata : “Ingatlah Allah pada setiap waktu dimana keinginanmu muncul, pada waktu tanganmu melakukan sumpah dan juga pada waktu kamu memutuskan satu hukum”

Barangsiapa Menyayangi, Dia Akan Disayangi

Luqman al-Hakim berkata : “Barangsiapa menyayangi, dia akan disayangi. Barangsiapa mendengarkan baik-baik, dia akan faham. Barangsiapa diam, dia akan selamat. Barangsiapa memperbanyak kebaikan, dia akan beruntung. Barangiapa mendzalimi orang, dia berdosa. Barangsiapa menyakiti orang, dia akan menyesal dan barangsiapa mempergauli manusia dengan baik, dia akan bahagia”

Janganlah Kamu…!

Umar bin Abdul Aziz berkata : “Janganlah sekali-kali kamu mendatangi pintu-pintu para penguasa walaupun kamu memerintahkan mereka kebaikan atau melarang mereka dari keburukan, dan janganlah sekali-kali kamu berduaan dengan wanita walaupun kamu mengajarinya salah satu surat dari Alqur’an, dan janganlah sekali-kali kamu menemani orang yang mendurhakai orang tua, dia tidak akan menerima kamu karena dia kepada kedua orangtuanya saja telah durhaka”.

Manfaat Besar Menuntut Ilmu

Imam Syafi’i pernah berkata : “Barangsiapa mempelajari Alqur’an maka tinggilah martabatnya, barangsiapa mempelajari ilmu fiqih maka mulialah kedudukannya, barangsiapa menulis hadits maka kuatlah hujjahnya, barangsiapa mempelajari ilmu hitung maka ariflah sisi pandangnya, barangsiapa mempelajari bahasa maka lembutlah tabiatnya, dan barangsiapa tidak bisa menjaga dirinya maka tidak bermanfaat ilmunya”

Simpanan Rahasia

Umar ibn Abdul Aziz pernah berkata : “Dada adalah tempat menyimpan rahasia, bibir adalah kuncinya, lisan adalah anak kunci pembukanya, maka hendaklah setiap orang menjaga

Mengingat Allah dan Mengingat Manusia

Umar radiyallahu ‘anhu berkata : “Selalu ingatlah kalian kepada Allah, karena itu adalah obat penyembuh, dan janganlah kalian mengingat manusia, karena itu adalah penyakit”

Gembira dan Sedih

Ikrimah rahimahullah pernah berkata : “Semua orang itu pasti bergembira dan bersedih, tapi jadikanlah kegembiraan itu sebagai syukur dan kesedihan itu sebagai sabar ”

Alasan Untuk Saudara Seiman

Abu Qilabah rahimahullah berkata : “Apabila engkau mendengar dari saudaramu sesuatu yang engkau tidak suka maka carilah sebisa mungkin alasan untuknya, apabila kamu tidak menemukan alasan maka katakan dalam dirimu : Barangkali saudaraku memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya”

Melihat Bid’ah yang Tidak Dirubah

Abu Idris al-Khaulani rahimahullah berkata : “Aku melihat di pojok masjid ada api yang berkobar itu lebih aku sukai daripada aku melihat ada satu bid’ah yang tidak dirubah”

Mengikuti Sunnah Rasulullah

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Jika kalian mendapatkan sunnah milik Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam, maka ikutilah dan jangan menoleh kepada pendapat siapapun”

Lima Perkara Pada Shahabat dan Tabi’in

Imam al-Auza’i rahimahullah berkata : “Lima perkara yang ada pada para Shahabat Rasulullah dan para Tabi’in (pengikut) mereka dengan baik : menetapi jama’ah, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca Alqur’an dan jihad di jalan Allah”

Pangkal Ketaatan dan Pangkal Maksiat

Hatim al-Ashamm rahimahullah berkata : “Pangkal ketaatan adalah tiga perkara : sedih, ridho dan cinta. Sedangkan pangkal maksiat adalah tiga perkara : sombong, tamak dan hasad ”

Bekal Terburuk di Akhirat

Fudhail ibn Iyadh rahimahullah berkata : “Seburuk-buruk bekal menuju akhirat adalah aniaya (permusuhan) terhadap para hamba Allah”

Sadarlah dan Bersiaplah

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Sadarlah wahai orang-orang yang lalai, karena kafilah telah bergerak. Dan di pagi hari, terpujilah orang-orang yang telah bersiap-siap”

Jika Hati Mati Dan Hidup

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Sesungguhnya hati itu mati dan hidup. Jika hati mati, maka paksalah dia untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban. Jika hati telah kau hidupkan, maka berilah pelajaran dengan amalan-amalan sunnah”.

Tidak Tamak Terhadap Dunia

Ahli hikmah mengatakan : “Barangsiapa beriman kepada akhirat, maka dia tidak akan tamak terhadap dunia”

Mulianya Akhirat dan Hinanya Dunia

Abu Sulaiman ad – Daroni rahimahullah berkata : “Apabila akhirat ada dalam hati, maka akan datanglah dunia menemaninya. Tapi apabila dunia ada di hati maka akhirat tidaklah menemaninya. Itu karena akhirat mulia dan dermawan, sedangkan dunia adalah hina”

Kepada Siapa Kita Berbuat Salah

Bilal Ibn Sa’ad rahimahullah berkata : “Janganlah kau lihat kecilnya kesalahan, tapi lihatlah kepada siapa kau berbuat salah”

Mengambil Hikmah dari Setiap Orang

Abdullah Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata : “Ambillah hikmah dari orang yang kamu dengar darinya. Karena seseorang terkadang bicara hikmah padahal dia bukan ahli hikmah. Hikmah itu bagaikan panah yang meluncur bukan dari ahli panah”.

Sibuk Dengan Aib Sendiri

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Apabila seseorang itu berfikir dan wara’, maka dia akan disibukkan dengan aibnya sendiri daripada mengurusi aib orang lain. Bagaikan orang sakit, dia sibuk dengan sakitnya dan tidak mengurusi sakit orang lain”

Tamu dan Titipan

Abdullah Ibn Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata : “Setiap kalian hanyalah tamu dan hartanya adalah titipan. Maka tamu itu akan berpamit dan harta itu akan dikembalikan kepada pemiliknya”.

Menjadi Seorang ‘Alim

Umar Ibn Khattab radiyallahu ‘anhu berkata : “Seseorang tidak akan menjadi orang ‘alim, sampai dia tidak hasad terhadap yang lebih tinggi, tidak meremehkan yang lebih rendah dan tidak mengambil upah dari amalannya”

Sedikit Tapi Cukup

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Sesuatu yang sedikit tapi mencukupi lebih baik daripada yang banyak tapi melalaikan”

Menghargai Orang Lain

Imam Syafi’i berkata : “Barangsiapa menghargai orang-orang, maka orang-orangpun akan menghargainya, dan barangsiapa meremehkan orang, maka dia tidak akan dihargai”

Kebutuhan Manusia Kepada Ilmu

Imam Ahmad rahimahullah berkata : “Manusia lebih butuh kepada ilmu daripada kepada makanan dan minuman. Seseorang butuh kepada makanan dan minuman dalam sehari sekali atau dua kali, sedangkan kebutuhannya terhadap ilmu sebanyak hirupan nafasnya”

Khauf dan Ucapan

Ibnul Katib rahimahullah berkata :  “Apabila khauf ( takut ) tinggal di hati, maka lidah tidak akan mengucap kecuali untuk yang berguna”

Meneteskan Air Mata

Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash radiyallahu ‘anhu berkata : “Sungguh, saya meneteskan setetes air mata karena takut kepada Allah, lebih saya cintai daripada bersedekah 1000 dinar”

Mengoreksi Diri

Maimun ibn Mihran rahimahullah berkata : “Tidaklah seseorang termasuk bertaqwa sehingga dia mengoreksi dirinya lebih daripada dia mengoreksi teman dekatnya, sehingga diapun tahu dari mana makanannya, dari mana pakaiannya, dari mana minumnya, apakah dari yang halal ataukah haram”

Gembira dan Tertipu

Bilal Ibn Sa’ad rahimahullah berkata : “Banyak orang gembira yang tertipu. Dia makan, minum dan tertawa, padahal telah jelas di dalam kitab Allah bahwa dia adalah bahan bakar neraka”.

Antara Jiwa yang Lapar dan Hati

Abu Sulaiman ad-Darooni rahimahullah berkata : ”Sesungguhnya jiwa itu apabila lapar dan haus, maka jernihlah hatinya dan lagi lembut. Dan jiwa itu apabila kenyang dan segar dari minum, maka matilah hatinya”.

Diam dan Ridho manusia

Luqman al-Hakim berkata : “ Diam itu hikmah tapi sedikit pelakunya”
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :” Menggapai ridho manusia adalah tujuan yang tak mungkin dicapai”

Penyebab Matinya Hati

Shahabat Umar ibn Khattab radiyallahu ‘anhu berkata : “Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya. Barangsiapa yang banyak salahnya, maka sedikitlah rasa malunya. Barangsiapa yang sedikit malunya, maka sedikit pula sikap wara’nya. Dan barangsiapa sedikit sikap wara’nya, maka matilah hatinya”.

Antara Anak Dunia dan Anak Akhirat

Ali Ibnu Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata : “ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia telah pergi menjauh dan ketahuilah juga bahwa Akhirat telah datang mendekat. Keduanya punya anak. Jadilah kamu anak – anak akhirat dan janganlah jadi anak – anak dunia. Karena sesungguhnya hari ini amal tanpa hisab, dan esok hisab tanpa amal”

Hawa Nafsu dan Panjang Angan – Angan

Ali Ibnu Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan – angan. Mengikuti hawa nafsu membuat lari dari kebenaran, adapun panjang angan – angan membuat lupa Akhirat”

Mengingat Mati dan Sedikit Bicara
Imam al-Auza’i rahimahullah berkata :” Barangsiapa banyak mengingat mati, dia akan merasa cukup dengan yang sedikit. Barangsiapa tahu bahwa perkataannya adalah termasuk dari perbuatannya, maka dia akan sedikit bicaranya”.
Duniamu dan Akhiratmu

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang ‘alim lagi ‘abid dari kalangan tabi’in, beliau berkata : “ Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang”

Bersusah-payah di Dunia untuk Meraih Kenikmatan Abadi

Ibnul Qayyim berkata, “Orang-orang yang berakal sehat dari setiap umat telah bersepakat bahwa kenikmatan akhirat tidak akan dapat diraih dengan kenikmatan dunia, dan bahwa barangsiapa yang menginginkan untuk beristirahat di akhirat maka ia akan bekerja keras dunia karena seseorang akan mendapatkan kenikmatan akhirat sesuai dengan tenaga yang ia kerahkan di dunia untuk meraihnya.”

Tidak Takut Mati

Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Setiap perbuatan yang Anda tidak mau apabila kematian menjemput Anda saat Anda sedang melakukannya, maka tinggalkanlah! Apabila Anda berhasil melakukannya, maka tidak masalah kapan saja Anda akan meninggal dunia.” (Shifatus Shafwah, Karya Ibnul Jauzi)

Mampukah Setan Menghalangi Antara Anda dan Rahmat Allah?

Qatadah as-Sadusi rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, setan akan mendatangimu dari segala arah, hanya saja ia tidak mendatangimu dari atasmu, karena setan tidak mampu menghalangi antara Anda dan rahmat Allah.” (Ighatsatul Lahfan, karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah)

Rahasia

Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah seorang hamba merahasiakan sesuatu, melainkan Allah akan menampakkannya melalui raut wajah dan kata-kata yang terucap dari lisannya.” (al-Adab asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)

Terimalah Kebenaran Tolaklah Kebatilan!

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Siapa saja yang datang kepadamu membawa kebenaran, maka terimalah kebenaran itu darinya meskipun dia adalah orang yang jauh darimu dan engkau membencinya. Sebaliknya, siapa saja yang datang kepadamu membawa kebatilan, maka tolaklah kebatilan itu darinya meskipun dia adalah orang yang dekat kepadamu dan engkau mencintainya.”

Hamba yang Dicintai Allah

Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sesungguhnya hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang mencintai Allah dan berusaha membimbing orang lain untuk mencintai Allah.” (Shahih Kitab az-Zuhd, Waki’)

Orang Sombong Akan Terhina

Abu Hatim al-Basti rahimahullah pernah berkata, “Tidaklah aku melihat seseorang menyombongkan diri terhadap orang yang berada di bawahnya, melainkan Allah akan mengujinya dengan perasaan rendah diri dan hina dari orang yang berada di atasnya.” (Raudhatul ‘Uqala, karya Ibnu Hibban)

Musibah, Awalnya Besar Kemudian Mengecil

Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah Allah menciptakan sesuatu melainkan pada mulanya kecil kemudian membesar, kecuali musibah; Karena sesungguhnya Allah menciptakannya besar pada awalnya kemudian mengecil.” (Bahjatul Majalis, Ibnu Abdil Barr)

Mengingkari Janji

al-Mutsanna bin Haritstah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Mati karena kehausan lebih aku sukai daripada aku mengingkari janji yang pernah aku ucapkan.” (Bahjahtul Majalis)

Pemberi Nasehat yang Melupakan Dirinya Sendiri

Jundub al-Bajali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Perumpamaan orang yang memberikan nasehat dan peringatan kepada orang lain akan tetapi ia melupakan dirinya sendiri adalah bagaikan sebuah lilin yang memberikan penerangan kepada sekelilingnya sedangkan dirinya sendiri terbakar api.” (Kitab az-Zuhd, karya Imam Ahmad)

Kemarahan Pintu Keburukan

Ja’far bin Muhammad rahimahullah pernah berkata, “Kemarahan merupakan kunci dari segala keburukan.”
Pengaruh Dosa

Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-Bashri dan mengadukan masalah yang sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk bisa menjaga shalat malam, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum mampu untuk melaksanakannya.”

Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah menghalangimu untuk melakukannya.”

Di lain waktu, pemuda lainnya mendatangi al-Hasan al-Bashri dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya saya telah banyak berbuat maksiat kepada Allah, akan tetapi Allah tetap memberikan kepadaku kemudahan dunia dan membukakannya untukku. Semua yang aku inginkan dari perkara dunia ini dapat aku raih.”

Al-Hasan berkata, “Apakah Anda biasa melaksanakan shalat malam?”

Pemuda tersebut menjawab, “Tidak.”

Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Cukuplah hal ini sebagai hukuman Allah atas dosa-dosamu. Allah telah mengharamkan untukmu kenikmatan bermunajat kepada-Nya.”

Jangan Tertipu oleh Amal dan Dosa

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata, “Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.

Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.”

Ketakwaan dan Kemuliaan

Salah seorang ahli hikmah pernah berkata, “ Barangsiapa mencari kemuliaan selain dengan menempuh jalan ketakwaan kepada Allah, maka selamanya ia tidak akan menjadi mulia.”

Jaminan Allah Bagi Pengikut Petunjuk Al-Qur’an

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Allah menjamin akan menganugerahkan hidayah dari kesesatan dan memberikan keselamatan pada hari perhitungan amal (kelak di akhirat) bagi orang yang benar-benar membaca al-Qur’an dan mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya. Demikian itu sesuai dengan firman Allah, “”Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thaha: 123-124)

Menjaga Lisan

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Sungguh aneh! Seorang manusia bisa mengendalikan dirinya dari berbagai perkara yang diharamkan, akan tetapi amat berat baginya mengendalikan ucapan lisannya. Anda melihat seorang yang dipandang alim agamanya, zuhud terhadap dunia dan ahli beribadah, namun ia berbicara dengan kata-kata yang tanpa disadarinya mendatangkan kemurkaan Allah Subhaanahu Wata’ala dan menyebabkan ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.”

Selamatkah Aku

Atha’ as-Sulami rahimahullah pernah berkata, “Kematian telah berada di leherku, kuburan adalah rumahku, pada hari kiamat kelak aku akan berdiri dihadapan Allah, shirath (jembatan di atas neraka jahannam) akan menjadi jalan yang harus kulewati. Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kelak.”

Makna Keselamatan

Seorang Ahli hikmah ditanya tentang makna keselamatan. Ia menjawab, “Keselamatan adalah Anda melewati hari ini tanpa berbuat dosa.”

Sempurnakan Shalat Anda!

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seorang hamba berdiri di hadapan Allah dalam dua keadaan. Keadaan yang pertama adalah ketika ia berdiri dalam shalatnya dan yang ke dua adalah ketika ia berjumpa dengan-Nya (di akhirat kelak). Maka barangsiapa menyempurnakan berdirinya dalam shalat, maka akan dimudahkan baginya berdirinya di hadapan Tuhannya. Sebaliknya, barangsiapa yang meremehkan berdirinya dalam shalat dan tidak menyempurnakannya, maka akan disulitkan baginya berdirinya di hadapan Tuhan-Nya. Allah berfirman, “Dan pada sebagian dari malam, sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari” (al-Insan: 26)

Berjumpa dengan Allah

Seorang ahli hikmah berkata, “Setiap hamba memiliki Tuhan yang pasti akan ia jumpai dan rumah yang kelak akan dia tempati. Maka hendaklah ia menjadikan Tuhannya ridha kepadanya sebelum ia menjumpai-Nya dan menghiasi rumahnya dengan baik sebelum ia pindah ke sana dan menempatinya.”

Sabar dan Syukur Bagian dari Iman

Sahl bin Abdillah at-Tustari rahimahullah berkata, “Iman itu ada dua bagian. Sebagiannya adalah sabar dan sebagian yang lain adalah syukur. Hal ini seperti disebutkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala dalam firman-Nya,
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi setiap orang yang penyabar dan banyak bersyukur” (QS. Ibrahim: 5)

Jangan Rendahkan Saudaramu!
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Janganlah seorang muslim merendahkan muslim lainnya! Karena sekecil-kecilnya seorang muslim, di sisi Allah adalah besar.”
Menfaatkanlah Kesenangan Dunia untuk Ketaatan!

Qatadah rahimahullah (salah seorang murid Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) pernah berkata, “Dunia adalah kesenangan yang (akan) segera ditinggalkan. Demi Allah yang tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Dia, tak lama lagi (dunia ini) akan hancur bersama penduduknya. Maka ambillah dari kesenangan dunia untuk mentaati Allah semampu Anda! Sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dari Allah.”

Nikmat dan Rahmat Allah

Sebagian ulama salaf berkata, “Sungguh Allah Subhaanahu Wata’ala telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang sangat banyak yang tidak sanggup kita hitung, padahal kita banyak bermaksiat kepada-Nya, sampai-sampai kita tidak tahu apa yang harus kita syukuri? Apakah kita mensyukuri nikmat kebaikan yang telah Dia tebarkan untuk kita? Ataukah atas rahmat-Nya yang telah menutupi keburukan dan kemaksiatan yang telah kita perbuat dari pengetahuan orang lain?”

Mukmin Sejati

Seorang ahli hikmah berkata, “Mukmin sejati adalah mukmin yang tidak membenturkan perintah Allah dan larangan-Nya dengan perintah dan larangan siapapun. Akan tetapi sebaliknya, ia selalu tunduk dan berserah diri secara mutlak, melepaskan diri dari segala sebab-sebab atau dorongan-dorongan kecuali ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta ridha menerima hukum-Nya.”

Kemenangan Turun Bersama Kesabaran

Ibnul Mubarak rahimahullah pernah berkata ketika mengomentari sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kemenangan itu turun bersama kesabaran,” : “Kemenangan yang dimaksud dalam hadits ini mencakup kemenangan dalam dua bentuk jihad, yaitu jihad melawan musuh yang nyata (orang-orang kafir) dan jihad melawan musuh yang tersembunyi (setan dan hawa nafsu). Barangsiapa bersabar dalam menghadapi kedua musuh tersebut, maka ia akan mendapat pertolongan dan kemenangan atas musuh-musuhnya. Barangsiapa tidak sabar menghadapinya dan banyak mengeluh, niscaya ia akan kalah dan menjadi tawanan musuhnya atau menjadi korbannya.”

Berburuk Sangka Terhadap Hawa Nafsu

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah pernah berkata, “Tidaklah berburuk sangka terhadap hawa nafsunya sendiri kecuali orang yang mengenalinya. Barangsiapa yang berbaik sangka terhadap hawa nafsunya maka dia adalah orang yang paling jahil (bodoh) tentang dirinya sendiri.”

Taubat yang Benar

Muhammad bin Ka’ab rahimahullah pernah berkata, “Taubat (yang benar) menghimpun empat perkara : (1) istighfar dengan lisan, (2) meninggalkan perbuatan maksiat, (3) bertekad dalam hati untuk tidak kembali berbuat dosa dan (4) meninggalkan teman-teman yang jahat.”

Pecinta Dunia

Diantara ucapan yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi’i rahimahullah adalah perkataannya, “Siapa yang tujuannya hanyalah apa yang akan masuk ke dalam perutnya, maka nilainya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya.”

Antara Amanah dan Harta Suap

Seorang ahli hikmah berkata, “Apabila hadiah (harta suap) telah masuk melalui sebuah pintu, maka sifat amanah akan keluar melalui jendela.”

Penyempurna Keshalihan Amal

Syaqiq bin Ibrahim pernah berkata, “Keshalihan amal seseorang akan sempurna dengan enam perkara : (1) senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan takut pada ancaman-Nya, (2) berbaik sangka terhadap sesama muslim, (3) Menyibukkan diri dengan aib sendiri sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain, (4) menutup aib saudaranya dan tidak menyebarkannya kepada orang lain dengan harapan saudaranya tersebut mau meninggalkan perbuatan maksiat dan memperbaiki perilakunya yang tidak baik, (5) menganggap besar kekurangan yang ada pada amalnya sehingga ia terdorong untuk meningkatkannya dan (6) berteman dengan orang yang ia anggap benar.”

Sahabat yang Baik

al-Hasan al-Bashri pernah berkata tentang kedudukan sahabat-sahabatnya yang baik, “Sahabat-sahabat kami lebih mahal (tinggi kedudukannya) daripada keluarga kami. Keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia sedangkan sahabat-sahabat kami mengingatkan kami kepada akhirat.”

Istiqamah dalam Beribadah

Seorang ahli hikmah pernah berkata, “Sembahlah Allah dan beribadahlah kepada-Nya baik di saat senang maupun di saat susah! Janganlah Anda menjadi seorang hamba yang hanya menyembah Allah bila mendapatkan keuntungan dunia dari ibadahnya. Jika ia mendapatkan kebaikan ia merasa tenang, jika mendapat cobaan ia berbalik mundur ke belakang. Sesungguhnya istiqamah (konsisten) dalam beribadah membutuhkan latihan pengendalian hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan.”

Ilmu dan Amal Shalih

Salah seorang ahli hikmah pernah berkata, “Barangsiapa baik perkataannya namun buruk amalnya, maka Allah akan menolak perkataannya. Namun, barangsiapa baik perkataannya dan baik pula amalnya, maka amalnya itu akan mengangkat derajatnya (di sisi Allah). Hal itu karena Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, “…Kepada-Nya perkataan yang baik dan amal shalih akan diangkat…” (QS. Faathir: 10)

Antara Meminta kepada Allah dan Meminta kepada Manusia

Muhammad bin Hamid pernah berkata kepada Abu Bakar al-Warraq, “Ajarilah saya suatu amalan yang dapat mendekatkan saya kepada Allah dan suatu amalan yang dapat mendekatkan saya kepada manusia!”

Abu Bakar al-Warraq menjawab, “Amalan yang dapat mendekatkanmu kepada Allah adalah, Anda memperbanyak doa (meminta dan memohon) kepada-Nya. Adapun amalan yang dapat mendekatkanmu kepada sesama manusia adalah Anda meninggalkan meminta-minta kepada mereka.”

Ilmu Antara Amal dan Perdebatan
Sebagian ahli hikmah berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Dia akan membukakan untuknya pintu amal dan menutup baginya pintu perdebatan. Sebaliknya, apabila Allah menghendaki keburukan pada diri seorang hamba, maka akan dibukakan untuknya pintu perdebatan dan ditutup baginya pintu amal.”
Kriteria Ilmu yang Bermanfaat
Salah seorang ahli hikmah berkata, “Ilmu yang paling baik adalah ilmu yang bermanfaat, dan sesungguhnya Allah Subhaanahu Wata’ala memberikan manfaat ilmu itu kepada orang yang mengetahuinya kemudian mengamalkannya. Dia tidak memberikan manfaat kepada orang yang mengetahuinya, tapi ia meninggalkannya (dan tidak mengamalkanya).”
Buah Mengingat Kematian dan Bahaya Melupakannya

Ad-Daqqaq rahimahullah pernah berkata, “Barangsiapa memperbanyak mengingat kematian, maka ia akan dianugerahi tiga perkara : (1) bersegera untuk bertaubat, (2) ketenangan dan ketenteraman hati dan (3) semangat untuk beribadah. Sebaliknya, barangsiapa yang melupakan kematian, maka ia akan dihukum dengan tiga perkara : (1) menunda-nunda taubat, (2) kegelisahan dan kegundahan hati dan (3) rasa malas untuk beribadah.”

Musuh Terkuat

Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit untuk aku hadapi daripada diriku (hawa nafsuku) sendiri. Terkadang aku berhasil mengalahkannya, tapi di lain waktu dia berhasil mengalahkanku.”

Kerendahan Hati dan Tanda Husnul Khatimah

Menjelang detik-detik kematiannya, ‘Umar bin al-‘Ash berkata, “Ya Allah, Engkau telah memerintahkan kami (untuk melakukan kebaikan), akan tetapi kami mendurhakainya dan meninggalkanya. Sebaliknya, Engkau telah melarang kami (untuk melakukan keburukan), akan tetapi kami justru mengerjakannya. Tidak ada yang mampu kami lakukan kecuali mengucapkan “Laa ilaaha illallah.””
Beliau pun kemudian mengulang-ulang kalimat “Laa ilaaha illallah” hingga beliau meninggal dunia.

Amalkanlah Ilmu yang Telah Anda Miliki!

Seorang ahli hikmah berkata, “Ilmu itu dipelajari untuk diamalkan, sebagaimana sebuah amal dilakukan untuk dapat menyelamatkan. Karena itu, apabila amal yang dilakukan lebih sedikit dari ilmu yang didapatkan, maka sesungguhnya ilmu itu telah menjadi beban bagi pemiliknya.”

Lima Tanda Kebinasaan Seseorang

al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, “Lima tanda dari tanda-tanda kebinasaan seseorang : (1) kerasnya hati, (2) bekunya air mata untuk menangis karena takut kepada Allah, (3) sedikitnya rasa malu, (4) besarnya kecintaan kepada dunia dan (5) panjangnya angan-angan.”

Contoh Sikap Istri yang Shalihah

‘Amrah istri dari Hubaib al-‘Ajmi biasa membangunkan suaminya di malam hari sambil berkata, “Wahai suamiku, bangunlah (untuk melakukan shalat malam)! Sebagian malam telah berlalu meninggalkanmu. Di hadapanmu ada perjalanan jauh yang sangat melelahkan, sedangkan bekalmu hanya sedikit. Rombongan orang-orang shalih telah jauh meninggalakan kita, sedang kita masih tetap berdiam di tempat kita semula.”

Kebanggaan Orang yang Bertaubat

Yahya bin Muadz pernah berkata, “Orang yang bertaubat (dari perbuatan dosa yang pernah dilakukannya) memiliki kebanggaan yang tidak tertandingi oleh kebanggaannya terhadap hal lainnya, yaitu kegembiaraan Allah atas taubatnya.”

Musuh Iblis atau Sahabat Iblis?
Sahnun rahimahullah pernah berkata, “Janganlah Anda termasuk ke dalam golongan orang yang apabila mereka berada di tengah orang banyak, mereka menjadikan Iblis sebagai musuh. Akan tetapi, ketika mereka menyendiri, mereka menjadikan Iblis sebagai sahabat dekat.”
Mensyukuri Ilmu

Sahal bin Abdullah pernah berkata, “Cara mensyukuri nikmat ilmu adalah dengan mengamalkannya. Adapun cara mensyukuri nikmat amal adalah dengan menambah ilmu.”

Diantara Doa Thalq bin Habib

Thalq bin Habib berkata dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu seperti ilmunya orang-orang yang takut kepada-Mu, rasa takut seperti rasa takutnya orang-orang yang mengenal-Mu, keyakinan seperti keyakinannya orang-orang yang bertawakkal kepada-Mu, kepasrahan seperti kepasrahannya orang-orang yang beriman kepada-Mu, taubat seperti taubatnya orang-orang yang tunduk kepada-Mu dan ketundukan seperti ketundukan orang-orang yang bertaubat kepada-Mu, syukur seperti syukurnya orang-orang yang bersabar karena-Mu, kesabaran seperti kesabaran orang-orang yang bersyukur kepada-Mu dan keselamatan seperti keselamatannya (orang-orang yang gugur membela agama-Mu) yang hidup dan mendapatkan rizki di sisi-Mu (di surga).”

Tanda Kecintaan Hamba Kepada Allah

Hafidz Hakami berkata mengomentari firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 165 yang artinya, “Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat mencintai Allah.” : “Tanda kecintaan seorang hamba terhadap Allah adalah ia mendahulukan perkara-perkara yang dicintai Allah atas perkara-perkara yang dicintai oleh hawa nafsunya walaupun perkara-perkara dicintai Allah itu tidak disukai oleh hawa nafsunya; Ia membenci hal-hal yang dibenci oleh Allah walaupun hawa nafsunya senang kepadanya; Ia mencintai orang-orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan memusuhi orang-orang yang dimusuhi-Nya; Dan ia akan berusaha untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Takut Bermaksiat

Ibnu Muhairiz berkata, “Sungguh, aku lebih suka menderita penyakit kulit daripada memakai pakaian dari sutera.”
al-Qasim bin Muhaimirah berkata, “Sungguh, aku lebih suka menginjak mata tombak yang panas hingga menembus telapak kakiku daripada menginjak kuburan seorang mukmin secara sengaja.”

Jagalah Ucapanmu!

Salah seorang ahli hikmah berwasiat kepada salah seorang anaknya. Ia berkata, “Wahai anakku! Jagalah ucapanmu! Sesungguhnya diantara perkataan itu ada yang lebih tajam daripada sabetan pedang, lebih berat daripada batu besar, lebih pahit daripada empedu dan lebih dalam menusuk hati daripada tusukan jarum yang sangat halus sekalipun.”

Hal yang Paling Mengherankan

Seorang ahli hikmah berkata, “Termasuk hal yang paling mengherankan adalah apabila Anda mengenal Allah tapi Anda tidak mencintainya, Anda mendengar seruan orang yang menyeru ke jalan-Nya tapi Anda tidak mau mengikutinya, Anda mengetahui besarnya pahala yang akan Anda dapatkan jika Anda melakukan amal shalih untuk-Nya tapi Anda malah berpaling dari-Nya, Anda menyadari beratnya siksaan dan adzab-Nya yang akan Anda rasakan jika Anda bermaksiat kepada-Nya tapi Anda justru mendurhakai-Nya.”

Diantara Sebab Terbesar Meraih Taufik Allah

Shalih al-Maghamisi hafidzahullah berkata, “Sesungguhnya diantara sebab terbesar untuk dapat meraih taufik dari Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia dan akhirat adalah birrul walidaini (berbakti kepada kedua orang tua). Sebaliknya, diantara sebab terbesar yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan taufik dari Allah adalah ‘uququl walidaini (durhaka kepada Ayah dan Bunda).”

Mengingat Kematian

‘Atha rahimahullah berkata, “Umar bin Abdul Aziz biasa berkumpul bersama orang-orang fakir setiap malamnya. Mereka duduk bersama-sama saling mengingatkan tentang kematian, hari kiamat dan kehidupan akhirat. Mereka pun menangis di majelis tersebut seolah-olah jenazah ada di hadapan mereka saat itu.”

Jihad di Mata Imam Ahmad

Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata, “Saya tidak mengetahui ada pintu kebaikan yang lebih utama daripada jihad di jalan Allah.”

Al-Fudhail bin Ziyad pernah berkata, “Saya pernah mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) ketika disebutkan kepadanya tentang jihad melawan musuh Allah, beliau menangis dan berkata, “Tidak ada amal kebaikan yang dapat menandingi keutamaan jihad di jalan Allah.”

(al-Mughni, Kitab al-Jihad, karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi)

Syahid Cita-citaku

‘Amr bin ‘Utbah bin Farqad pernah berkata, “Aku berdo’a memohon kepada Allah tiga perkara. Allah telah mengabulkan dua perkara untukku; Dan kini aku menanti perkara yang ke tiga. Pertama, aku memohon kepada-Nya agar Ia (Allah) menjadikanku sebagai orang yang zuhud terhadap dunia, dan kini aku tidak peduli apa datang kepadaku maupun apa yang pergi meninggalkanku dari perkara dunia. Kedua, aku memohon kepada-Nya agar Ia (Allah) memberikan kekuatan kepadaku untuk bisa senantiasa menjaga shalat (fardhu dan nafilah), dan Allah telah mengabulkannya. Adapun yang ke tiga, aku memohon kepada-Nya agar Ia (Allah) menganugerahkan kepadaku asy-Syahadah (gugur di medan jihad), dan hingga kini aku masih menanti kedatangannya.” (al-Jihad 2/112, karya Ibnul Mubarak)

Jihad di Mata Salaful Ummah

Imam adh-Dhahhak rahimahullah berkata tentang firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 216 yang artinya, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci” : “Ketika turun ayat tentang berperang, mereka tidak menyukainya. Namun setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan pahala dan keutamaan yang akan diraih oleh orang-orang yang berperang di jalan-Nya serta perkara-perkara yang Allah janjikan untuk mereka berupa kehidupan dan rizki (yang kekal di akherat kelak), maka orang-orang yang memiliki keyakinan yang penuh terhadap janji Allah tidak mengedepankan ibadah yang lain dari jihad di jalan Allah. Mereka pun mencintai jihad dan sangat bersemangat untuk berjihad. Maka apabila ada seruan untuk berjihad, mereka segera mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diikutsertakan pergi ke medan jihad. Apabila mereka tidak memiliki perbekalan untuk berjihad maka mereka pun akan pulang ke rumah dalam keadaan menangis karena sedih tidak bisa ikut pergi berjihad di jalan Allah. Jihad termasuk perkara-perkara yang Allah wajibkan kepada hamba-hambanya.”
(al-Jihad karya Ibnul Mubarak 1/66)

Tinggalkanlah Pandangan dan Perkataan yang Tidak Bermanfaat!

Ibnul Mubarak rahimahullah pernah berkata, “Tinggalkanlah pandangan-pandangan mata yang tidak bermanfaat, niscaya Allah akan memberikan kekhusyu’an ke dalam hatimu! Dan tinggalkanlah perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat, niscaya Allah akan memberikan mutiara hikmah kepada Anda.”

Bersiaplah Menghadapi Kehidupan di Alam Kubur!
Al-Faqih Abu al-Laits pernah berkata, “Wajib bagi setiap muslim untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan di alam kubur dengan cara memperbanyak amal shalih sebelum ia memasukinya, karena yang demikian itu akan mudah baginya selama ia masih hidup di dunia. Apabila seseorang telah memasuki alam kubur, ia pasti akan sangat berharap untuk dapat menambah amal shalihnya walaupun hanya sedikit. Akan tetapi, ia tidak akan mungkin dapat melakukannya. Pada saat itu, yang ada hanyalah penyesalan yang tiada bertepi.”
Sulitnya Shalat Malam

al-Hasan al-Bashri pernah berkata, “Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit daripada shalat di tengah malam.”

Dunia di Tanganku, Akhirat di Hatiku

Seorang ahli hikmah berkata, “Islam sama sekali tidak melarang pemeluknya untuk memiliki dunia dan segala isinya. Akan tetapi, waspadalah! Jangan sampai dunia masuk ke dalam hatimu. Karena sesungguhnya, apabila dunia berada di tanganmu, maka Andalah yang menguasainya dan Anda akan menggunakannya sekehendakmu. Akan tetapi, apabila dunia telah masuk ke dalam hatimu, maka dialah yang menguasai Anda dan Anda yang akan menjadi budaknya. Dia akan mempekerjakan Anda sekehendaknya.”

Hari Ini Amal, Besok Hisab

’Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya dunia telah bersiap-siap untuk meninggalkan kita dan sebaliknya akhirat telah bersiap untuk menjemput kita. Masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki anak-anak. Jadilah kalian semua anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini (dunia) adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab (perhitungan amal), sedangkan esok hari (akhirat) adalah saatnya hisab tanpa ada amalan.”

Diantara Sifat Orang Shaleh : Menjaga Shalat Malam

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang orang-orang shaleh, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya” (as-Sajdah : 16)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya adalah bangun malam (untuk melaksanakan shalat malam) dan meninggalkan tidur dan berbaring di atas pembaringan yang terhampar.”

Menanamkan Keimanan dan Akhlak Terpuji dalam Diri Anak

Abduh Majalli berkata, “Sesungguhnya cara terbaik untuk menanamkan keimanan dan akhlak yang terpuji dalam diri anak kecil adalah dengan memberikan contoh nyata dan perilaku yang baik. Sesering apapun kita berbicara kepadanya tentang shalat –misalnya- maka tidak akan banyak berpengaruh, kecuali jika ia melihat kita (sebagai orang tua dan pendidik) senantiasa menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya.”

Tawakal Hamba kepada Sang Pencipta

Ibnu Qudzafah pernah berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya seseorang yang sedang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu tidaklah lebih membutuhkan (pertolongan) Allah dan kasih sayang-Nya daripada seseorang yang sedang duduk santai di dalam rumahnya bersama istri dan anak-anaknya. Jika Anda telah memahami hal ini dengan hatimu, maka bertawakalah kepada Allah seperti tawakalnya seseorang yang sedang tenggelam di tengah lautan, yang meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkannya kecuali hanya Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Dahsyatnya Kehidupan Setelah Kematian

Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya Anda mengetahui apa yang akan Anda hadapi setelah kematian, niscaya akan hilanglah selera Anda untuk makan dan minum dan Anda tidak akan masuk ke dalam rumah untuk berteduh di dalamnya.”

Hakikat Dzikir

Sa’id bin Jubair pernah berkata, “Sesungguhnya rasa takut yang paling utama adalah rasa takut kepada Allah yang dapat menghalangi Anda dari perbuatan maksiat dan mendorong Anda untuk berbuat ketaatan; Dan dzikir merupakan (bagian dari) ketaatan kepada Allah. Maka barangsiapa yang mentaati Allah maka sesungguhnya ia telah berdzikir. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mentaati-Nya, maka sesungguhnya ia telah lalai dari dzikir kepada-Nya walaupun ia banyak bertasbih dan membaca al-Qur’an.”

Rasa Takut Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ’anhu

Ketika Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berdiri di hadapan sebuah kuburan, beliau menangis seraya berkata, “Sungguh! Seandainya aku berada di antara surga dan neraka, aku tidak tahu ke mana tempat kembaliku, surga atau neraka. Dan seandainya aku diberi hak untuk memilih, maka aku akan lebih memilih untuk menjadi abu sebelum aku mengetahui tempat tinggalku yang abadi.”

Hati yang Lalai dari Mengingat Allah

Suhail bin Abdullah berkata, “Tidak ada satu detik pun berlalu melainkan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengawasi hati-hati para hamba-Nya. Barangsiapa yang hatinya lalai dari mengingat Allah, maka Allah akan menjadikan Iblis berkuasa atasnya.”

Melembutkan Hati yang Membatu

Sebagian ulama salaf berkata, “Apabila Anda ingin mengobati hati Anda yang telah keras membatu maka perbanyaklah menjenguk orang yang sakit, mengantarkan jenazah ke pemakaman dan mengingat kematian.”

Ahli Dzikir (Orang yang Banyak Mengingat Allah)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya keadaan orang-orang yang banyak berdzikir (mengingat Allah) berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Diantara mereka ada yang lebih mengutamakan membaca al-Qur’an dan mendahulukannya dari dzikir-dzikir yang lainnya. Dan diantara mereka ada pula yang lebih memilih untuk memperbanyak membaca tahlil, tasbih dan tahmid.”

Ikhlas Dalam Memberi Nasehat

al-Khatib al-Baghdadi berkata, “Sesungguhnya seorang ahli ilmu, apabila ia menyampaikan suatu nasehat tanpa dibarengi niat ikhlas dan mengharap pahala dari Allah, maka nasehatnya akan hilang dari hati orang yang mendengarkannya tanpa meninggalkan bekas seperti air yang jatuh di atas batu.  (Iqthidha’ al-Imu al-Amal)

Menyeberangi Samudera Kehidupan

Seorang ahli hikmah berkata, “Kehidupan dunia itu laksana samudera luas yang telah banyak memakan korban, baik orang-orang terdahulu maupun yang datang setelah mereka. Maka jika Anda mampu, jadikanlah ketakwaan kepada Allah sebagai perahunya, tawakkal kepada-Nya sebagai dayungnya dan amal shaleh sebagai perbekalannya. Apabila Anda berhasil menyeberanginya dengan selamat maka hal itu adalah semata-mata berkat rahmat Allah. Dan apabila Anda celaka di tengah perjalanan maka itu disebabkan oleh dosa-dosa yang Anda lakukan.” (Mausu’ah Aqwal al-Hukama, karya : Musa bin Rasyid)

Bersiaplah Menghadapi Kematian!

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Beramalah kalian untuk akhirat kalian! Karena sesungguhnya barangsiapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah akan mencukupi untuknya perkara dunianya. Perbaikilah amalan-amalan hati kalian, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalan lahir kalian. Perbanyaklah mengingat kematian dan persiapkanlah bekal dengan sebaik-baiknya untuk menempuh perjalanan akhirat sebelum datang kepada kalian pemutus dan penghancur segala kelezatan (kematian).”
(Jauhar Shifatush Shafwah)

Saat Diam Saat Bicara

Ubaidillah bin Abi Ja’far salah seorang ahli fikih dan ahli hikmah negeri Mesir pada zamannya berkata, “Apabila seseorang sedang berbicara dalam suatu majelis, kemudian timbul dalam dirinya rasa ta’ajub (berbangga diri) dengan pembicaraannya tersebut, maka hendaklah ia diam. Sebaliknya, apabila ia sedang diam dalam suatu majelis, kemudian timbul dalam dirinya rasa ta’ajub dengan diamnya tersebut, maka hendaklah ia berbicara.” (Qaala Ibnu Rajab, halaman 93)

Diantara Keutamaan Shalat Malam

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Perumpamaan keutamaan shalat (sunnah) yang dikerjakan pada malam hari jika dibandingkan dengan keutamaan shalat (sunnah) yang dikerjakan pada siang hari seperti keutamaan shadaqoh yang dilaksanakan secara rahasia atas shadaqoh yang dilaksanakan secara terang-terangan.”

Amru bin al-Ash berkata, “Satu rakaat shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari lebih baik daripada sepuluh rakaat shalat sunnah yang dikerjakan pada siang hari.”

(Qaala Ibnu Rajab, halaman 29)

Lisan Pembuka Rahasia Hati

Imam Abu al-‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba merahasiakan sesuatu dalam hatinya, melainkan Allah Subhaanahu wata’ala akan menampakannya melalui ucapan lisannya.” (Syarh ath-Thahawiyah)

Keutamaan al-Qur’an

Ibnu Rajab rahimahullah berkata : Diantara amalan sunnah yang paling agung yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah adalah membaca al-Qur’an, mendengarkannya, mentadabburinya dan memahami maknanya.

Khabbab bin al-Arat pernah berkata kepada seseorang, “Mendekatlah kepada Allah semampumu (dengan memperbanyak amal shalih). Ketahuilah, sesungguhnya Anda tidak akan menemukan suatu amalan yang dapat mendekatkan Anda kepada Allah yang lebih dicintai-Nya daripada (membaca, mendengarkan dan mentadabburi) firman-firman-Nya.”

Saksi Atas Perbuatan Kita di Dunia

Al-Hasan pernah berkata, “Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”

Keikhlasan Nabi Yusuf ‘Alahis Salam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya keikhlasan Nabi Yusuf ‘alaihis salam kepada Allah Subhaanahu wata’ala lebih besar dan lebih kuat daripada kecantikan dan keelokan rupa istri al-‘Aziz (penguasa Mesir) serta kecintaan Nabi Yusuf kepadanya.” (Majmu al-Fatawa Ibnu Taimiyah 10/602)

Jadilah Seperti Anak Kecil!

as-Sirri as-Saqthi pernah berkata, “Jadilah Anda (di hadapan Allah) seperti seorang anak kecil di hadapan orang tuanya yang apabila ia menginginkan sesuatu dari mereka akan tetapi mereka tidak mengabulkan keinginannya maka ia akan merengek dan menangis di hadapan keduanya.
Demikian pulalah sebaiknya keadaan Anda di hadapan Allah, apabila Anda telah memohon sesuatu kepada-Nya dan Allah belum juga mengabulkan permohonan Anda, maka bersimpuhlah dan menangislah dihadapan-Nya!

Iman Bertambah dan Berkurang

‘Umair bin Khumasyah pernah berkata, “Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.”
Orang-orang bertanya kepadanya, “Bagaimana bisa demikian?”
Umair menjawab, “Ketika kita (banyak) mengingat Allah, kita menjadi takut kepada-Nya, (kita laksanakan perintah-Nya dan kita tinggalkan larangan-Nya) maka pada saat itulah iman kita bertambah. Dan apabila kita lalai dari mengingat Allah, kita lupa akan (surga dan neraka)-Nya, kita sia-siakan (perintah dan larangan)-Nya, maka pada saat itulah iman kita berkurang.”

Shalat Istikharah Sebelum Doa Istikharah

Ibnu Abi Jamrah pernah berkata, “Diantara hikmah didahulukannya pelaksanaan shalat sunnah istikharah sebelum kita memanjatkan doa istikharah adalah karena sebelum kita dapat masuk menghadap seorang raja untuk mengajukan permohonan kita kepadanya secara langsung di dalam istananya, kita harus mengetuk pintu kerajaannya terlebih dulu agar pintu istana raja tersebut terbuka untuk kita sehingga kita dapat masuk ke dalamnya.”

Diantara Bentuk Kedzaliman Terhadap Saudara Seagama 

Ibnu Sirin rahimahullah pernah berkata, “Diantara bentuk kedzaliman seseorang terhadap saudaranya adalah apabila ia menyebutkan keburukan yang ia ketahui dari saudaranya dan menyembunyikan kebaikan-kebaikannya.

Mendustakan Takdir

Saat menjelang kematiannya, al-Hasan pernah berkata, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.”

Permisalan Seorang Mukmin

Ibnu ‘Amr pernah berkata, “Permisalan seorang mukmin adalah seperti pohon kurma, meyerap (mengambil) yang baik dan menghasilkan yang baik pula.”

Jangan Pernah Berhenti Berdoa!

Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata, “Janganlah kalian meninggalkan doa! Dan jangan sampai perbuatan dosa yang kalian lakukan, menghalangi kalian untuk berdoa kepada Allah, karena sesungguhnya Allah telah mengabulkan permohonan Iblis, padahal ia adalah makhluk yang paling buruk.
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Hijr ayat 36 dan 37 yang artinya, “Iblis berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman, “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

Buah Berfikir

Ibnu ‘Uyainah rahimahullah pernah berkata, “Berfikir merupakan cahaya yang masuk ke dalam hati seseorang. Dan apabila seseorang mau berfikir, maka ia akan akan mampu mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari segala sesuatu (yang ia lihat, dengar, baca, rasa dan alami).”

Contoh Bakti Ulama Salaf kepada Orang Tua

Diceritakan bahwa pernah suatu hari, Ibnu ‘Aun al-Muzani dipanggil oleh ibunya, maka ia pun menjawabnya dengan suara yang lebih keras dari suara ibunya agar dapat didengar oleh sang ibu.
Tak beberapa lama kemudian, Ibnu ‘Aun tersadar atas apa yang baru saja ia lakukan. Ia pun menyesalinya dan segera memerdekakan dua orang budak yang ia miliki.

Tanda Orang yang Menyadari Kedudukan Dunia

Ibnu ‘Aqil pernah berkata, “Barang siapa mengetahui bahwa dunia ini adalah negeri tempat berlomba untuk meraih dan mengumpulkan amal shalih, dan ia pun mengetahui bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam ilmu dan amal maka makin tinggi pula kedudukannya di surga kelak, maka ia tidak akan menyia-nyiakan waktu sedikitpun dan akan berusaha memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, dan ia tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk berbuat baik.”

Syarat Untuk Mendapatkan Hal yang Kita Cintai
Salah seorang ahli hikmah pernah berkata, “Apabila Anda berharap agar Allah senantiasa menganugerahkan kepada Anda apa-apa yang Anda cintai dan sukai maka hendaklah Anda senantiasa menjaga dan melaksanakan apa-apa yang dicintai dan disukai oleh Allah.”
Mukmin Sejati

Sebagian Ahli Hikmah berkata, “Mukmin sejati bukanlah mukmin yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah. Akan tetapi, mukmin sejati adalah mukmin yang apabila bermaksiat kepada Allah maka ia bersegera untuk kembali dan bertaubat kepada-Nya.”

Paling Dermawan dan Paling Kikir

Wahab bin Munabbih pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang paling dermawan di dunia ini adalah orang yang menunaikan hak-hak Allah walaupun orang lain melihatnya sebagai orang yang kikir dalam hal lain. Dan sesungguhnya orang yang paling kikir di dunia ini adalah orang yang kikir untuk menunaikan hak-hak Allah walaupun orang lain melihatnya sebagai orang yang dermawan dalam hal lain.”
(Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Macam-macam Hati menurut Sirri as-Saqthi

Sirri as-Saqthi pernah berkata, “Hati manusia itu ada tiga macam : (1) Hati laksana gunung yang tidak bisa disingkirkan oleh apa pun; (2) Hati laksana pohon kurma yang memiliki batang pohon yang kokoh tetapi angin membuatnya melambai-lambai; dan (3) Hati laksana laksana bulu yang condong bersama angin ke kanan dan ke kiri. (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Asbahani)

Berhati-hatilah Terhadap Hak Milik Orang Lain!

Shalih ad-Dahhan pernah berkata, “Jabir bin Zaid (nama kunyah beliau adalah Abu Sya’tsa) pernah bercakap-cakap dengan sebagian keluarganya. Kemudian ia melewati sebuah kebun milik suatu kaum. Ia mencabut sepotong bambu dari kebun itu untuk melindungi dirinya dari gangguan anjing-anjing.
Ketika tiba di rumah, ia meletakkan bambu tersebut di masjid. Ia berkata kepada keluarganya, “Simpanlah bambu ini! Karena tadi aku melewati kebun milik suatu kaum, lalu aku mencabutnya dari kebun itu.”
“Subhanallah! Wahai Abu Sya’tsa, berapa sih nilai (harga) sepotong bambu itu?” ujar keluarganya.
Abu Sya’tsa menjawab, “Seandainya setiap orang yang melewati kebun itu mengambil sepotong bambu dari situ, niscaya tidak akan ada lagi sepotong bambu pun yang tersisa.”
Pada keesokan harinya, ia pun mengembalikan potongan bambu itu ke tempat asalnya.
(Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Diterimakah Amalan Kita?

Sulaiman bin al-Mughirah bercerita bahwa Yunus bin ‘Ubaid pernah berkata,
“Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia pernah berkata, “Kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman, “Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.” (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Bahaya Menyibukkan Diri Dengan Aib Orang Lain

Mahfudh bin Mahmud pernah berkata, “Barangsiapa melihat kebaikan-kebaikan dirinya sendiri, maka ia akan diuji dengan melihat keburukan-keburukan orang lain. Dan Barangsiapa melihat keburukan-keburukan dirinya sendiri, maka ia akan selamat dari melihat keburukan-keburukan orang lain. Dan barangsiapa menyangka bahwa seorang saudaranya muslim sedang ditimpa fitnah, maka sesungguhnya dirinya sendirilah yang sedang ditimpa fitnah. (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Menghapus Keburukan dengan Kebaikan

Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, “Apa pendapat Anda bila ada seseorang yang pakaiannya terkena air kencing, lalu ia hendak mensucikannya dengan air kencing pula? Mungkinkah air kencing itu dapat mensucikannya? Tentu saja tidak! Kotoran tidak dapat disucikan kecuali dengan sesuatu yang suci. Begitu pula halnya keburukan yang pernah kita lakukan, tidak akan dapat terhapus kecuali dengan memperbanyak melakukan kebaikan.” (Hilyatul ‘Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Dua Kelompok Orang yang Tidak Akan Mendapatkan Ilmu

Abul Aliyah pernah berkata, “Ilmu tidak akan bisa didapat oleh orang yang pemalu dan orang yang sombong.” (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Kehinaan Dunia

Abu Mu’awiyah al-Aswad pernah berkata, “Seluruh manusia – yang baik maupun yang jahat – berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang lebih rendah (nilainya di sisi Allah) daripada sayap lalat.”
Lalu seseorang bertanya kepadanya, ”Apakah yang lebih rendah (nilainya di sisi Allah) daripada sayap lalat itu?”
Ia menjawab, “Dunia.”
(Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Mintalah Kepada Allah!!

Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah berkata kepada seseorang yang suka mendatangi para raja untuk meminta sesuatu kepada mereka, “Kasihan! Anda mendatangi orang yang menutup pintunya darimu, menampakkan kefakirannya kepadamu dan tidak menampakkan kecukupannya kepadamu. Sementara Anda meninggalkan Dzat yang senantiasa membuka pintuNya untukmu pada malam dan siang hari, menampakkan ketidakbutuhanNya kepadamu dan mengatakan, “Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan permintaanmu.” [Ghafir : 60]
(Dinukil dengan sedikit perubahan dari buku “Pesan-resan Ramadhan, karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Pustaka Darul Haq)

Puasa Adalah Perisai

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Shaum (puasa) itu adalah perisai.” (Hadits Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Ibnul ‘Arabi berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, “Shaum disebut sebagai perisai karena orang yang berpuasa menahan dirinya dari syahwat; sedangkan jalan menuju neraka dikelilingi oleh syahwat. Walhasil, barangsiapa berhasil menahan dirinya dari syahwat di dunia, maka hal itu akan menjadi pelindung baginya dari api neraka kelak di hari kiamat.”

(Dinukil dengan sedikit perubahan dari buku “Pesan-pesan Ramadhan, karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Pustaka Darul Haq)

Meninggalkan Syahwat Dunia untuk Mendapatkan Kenikmatan Akhirat

Sebagian ulama salaf berkata ketika mengomentari hadits qudsi yang shahih tentang keutamaan shaum (puasa) bahwa seseorang yang sedang berpuasa meninggalkan makan, minum dan berhubungan suami-isteri untuk mengharapkan ridha Allah, “Alangkah bahagianya orang yang meninggalkan syahwat dunia demi mendapatkan balasan yang belum pernah ia lihat yang Allah janjikan untuknya di akhirat.”
(Lathaiful Ma’arif, karya Ibnu Rajab)

Pentingnya Puasa

Badil al-‘Uqaili pernah berkata, “Shaum (puasa) adalah benteng pertahanan para ahli ibadah (dari serangan syetan)”
Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, “Berpuasalah, karena puasa bisa menutup pintu maksiat dan membukakan pintu ketaatan untukmu!”
(Hilyatul Auliya’, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Tidak Mau Menimbun

Yazid bin Maisaroh pernah berkata, “Aku tidak suka menjadi seorang pedagang budak. Akan tetapi, menjadi pedagang budak lebih aku sukai daripada aku menimbun bahan makanan sambil menunggu naiknya harga yang memberatkan sesama muslim.” (Hilyatul ‘Auliya, Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Keagungan Shalat

al-‘Utaibi pernah berkata, “Ayahku pernah mengatakan bahwa apabila ‘Ali bin al-Husain selesai berwudhu dan telah bersiap untuk shalat, tubuhnya akan gemetar dan menggigil. Pernah ada seorang lelaki yang bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ‘Ali bin al-Husain menjawab, “Celakalah Engkau! Tidakkah kau tahu, kepada siapa aku akan menghadap? Dan kepada siapa aku akan bermunajat?”

Diantara Indikator Kesempurnaan Iman

Yahya bin Muadz pernah berkata, “Ada enam perkara, apabila dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah keimanannya : (1) memerangi musuh Allah dengan pedang, (2) tetap menyempurnakan puasa walaupun di musim panas, (3) tetap menyempurnakan wudhu walaupun di musim dingin, (4) tetap bergegas menuju mesjid (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) walaupun di saat mendung, (5) meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan walaupun ia tahu bahwa ia berada di pihak yang benar dan (6) bersabar saat ditimpa musibah.” (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Antara Nasehat dan Pencemaran Nama Baik

Sufyan pernah berkata, “Saya pernah bertanya kepada Mas’ar : “Apakah Anda senang jika ada seseorang menghadiahkan kepada Anda aib-aib Anda?”
Mas’ar menjawab, “Jika hadiah itu datang dari orang yang bermaksud memberikan nasehat, maka tentu saya senang. Akan tetapi, jika hadiah itu datang dari orang yang bermaksud menjelek-jelekkan saya (atau mencemarkan nama baik saya), maka saya tidak suka.”
(Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Pintu-pintu Kecerdasan

Muhammad bin Abdul Malik bin Hasyim pernah bertanya kepada Dzun Nun, “Ada berapakah pintu menuju kecerdasan itu?”
Dzun Nun menjawab, “Pintu manuju kecerdasan ada empat : (1) al-khauf (takut), (2) ar-raja’ (harap), (3) al-mahabbah (cinta) dan asy-syauq (rindu). Tiap pintu tersebut memiliki kunci masing-masing. Melaksanakan ibadah fardhu (wajib) adalah kunci pembuka pintu al-khauf; melaksanakan ibadah nafilah (sunat) adalah kunci pembuka pintu raja’; cinta, senang dan rindu untuk beribadah adalah kunci pembuka pintu al-mahabbah; dan senantiasa berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisan adalah kunci pembuka pintu asy-syauq.”
(Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Ketajaman Firasat

al-Kirmani pernah berkata, “Barangsiapa menjaga pandangannya dari hal-hal yang haram, menanah diri dari syahwat, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), menghiasi amalan lahirnya dengan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset.  (Hilyatul Auliya, karya Abu Nuaim al-Ashbahani)

Kekuatan Iman

Syumaith pernah berkata, “Sesungguhnya Allah meletakkan kekuatan orang beriman di dalam hatinya, bukan pada anggota tubuhnya. Tidakkah Anda memperhatikan orang tua yang sudah lemah fisiknya tapi masih mampu berpuasa di siang yang sangat panas dan bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam? Padahal banyak orang-orang yang masih muda lagi kuat fisiknya tidak sanggup untuk melaksanakannya.”
(Dari kitab Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Ucapan yang Tidak Bermanfaat

Muhammad bin Sauqah pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Saya akan berbicara kepada kalian dengan suatu pembicaraan, mudah-mudahan Allah menjadikannya bermanfaat untuk kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikannya bermanfaat untukku.
Saya pernah bertemu dengan ‘Atha (salah seorang ulama dari kalangan tabi’in), maka ia pun berkata kepadaku, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian (dari kalangan para sahabat dan tabi’in) membenci ucapan yang tidak bermanfaat. Mereka mengganggap bahwa semua ucapan termasuk dalam ucapan yang tidak bermanfaat, kecuali tiga hal : (1) membaca al-Qur’an, (2) amar ma’ruf nahi munkar dan (3) pembicaraan seseorang dalam hal yang memang ia harus berbicara tentangnya seperlunya. Apakah kalian akan mengingkari firman Allah : “Padahal sesunggunya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (perbuatan-perbuatanmu itu)” [al-Infithar : 10-11], dan juga firman-Nya : “Seorang (malaikat) duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaaf : 17-18]

(Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Pembicaraan dalam Masjid

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib, bahwa ia pernah berkata “Barangsiapa yang duduk di dalam masjid, maka sesungguhnya ia sedang duduk-duduk bersama Allah. Maka sudah sepantasnyalah baginya untuk tidak berbicara kecuali pembicaraan yang baik”.

Diantara Bahaya Kekenyangan

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab, ia pernah berkata, “Hindarilah oleh kalian kekenyangan karena terlalu banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hal itu dapat merusak tubuh, menimbulkan penyakit dan membuat malas untuk beribadah.”

Kehati-hatian dalam Berfatwa

Ibnu Mahdi pernah berkata, “Seorang lelaki datang menemui Imam Malik untuk bertanya kepadanya tentang suatu masalah agama. Ketika ditanya tentang masalah tersebut, Imam Malik menjawab, “Saya tidak bisa menjawab pertanyaanmu (karena saya memang tidak mengetahui jawabannya)”

Lelaki itu pun berkata, “Sesungguhnya aku telah datang dari tempat jauh ke tempat ini (sebagai utusan dari kaumku) untuk menanyakan masalah ini kepadamu. (Tapi ternyata setelah aku tanyakan masalahnya kepadamu, Anda tidak bisa menjawabnya. Lalu apa yang harus kukatakan kepada kaumku jika aku pulang nanti?”)

Maka Imam Malik pun berkata kepada lelaki tersebut, “Kalau demikian halnya, apabila Anda telah sampai di tengah-tengah kaummu katakanlah kepada mereka bahwa Anda telah menanyakan masalah ini kepada Malik, tapi ia menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bisa menjawabnya.”

Diantara Obat Hati yang Sakit

Ibrahim al-Khawwash pernah berkata, “Obat hati ada lima : (1) Membaca al-Qur’an dengan disertai tadabbur (merenungkan maknanya), (2) mengosongkan perut (berpuasa), (3) shalat malam, (4) Berdoa dan memohon ampunan di penghujung malam dan (5) bermajelis bersama orang-orang shalih”

Bicara Agama Tanpa Ilmu

Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa berbicara tentang perkara agama tanpa didasari ilmu maka sesungguhnya ia telah berdusta walaupun ia tidak berniat untuk berdusta secara sengaja dengan ucapannya tersebut.”

Yakin Kepada Janji Allah

Syaqiq bin Ibrahim pernah berkata, “Barangsiapa ingin mengetahui kadar pengetahuannya tentang Allah, maka hendaklah ia melihat (dan membandingkan antara) apa yang dijanjikan oleh Allah untuknya dan apa yang telah dijanjikan oleh manusia untuknya, manakah diantara keduanya yang lebih diyakini oleh hatinya?”

Diantara Penyebab Hancurnya Islam

Ziyad bin Jarir pernah mendatangi Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Umar berkata kepadanya, “Tahukah Anda, apa yang menghancurkan Islam? Islam akan dihancurkan oleh ketergelinciran ulama, perdebatan orang munafik yang membawakan dalil dari al-Qur’an dan fatwa hukum dari orang-orang yang menyesatkan.”

Menghafal Ilmu

al-A’masy pernah berkata, “Hafalkanlah ilmu yang telah Anda kumpulkan! Karena orang yang mengumpulkan ilmu namun ia tidak menghafalnya, bagaikan seorang laki-laki yang duduk di depan hidangan, lalu ia mengambil hidangan tersebut sesuap demi sesuap, namun ia lemparkan suapan-suapan itu ke belakang punggungnya. Kapankah Anda akan melihatnya kenyang?”

Diantara Keutamaan Ilmu

Abu Darda’ radhiyallu ‘anhu pernah berkata, “Tuntutlah ilmu sebelum ilmu itu diangkat. Ilmu diangkat dengan meninggalnya para ulama. Orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sama dalam hal pahala. Sesungguhnya manusia itu hanya ada dua, orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu. Dan tidak ada kebaikan pada diri manusia yang selainnya.”

Imam asy-Syafi’i pernah berkata, “Menuntut ilmu itu lebih baik daripada shalat sunnat.”

Saling Membantu Saudara Seiman

al-A’masy berkata, “Khaitsamah biasa datang ke masjid dengan membawa beberapa kantong kain (berisi uang) lalu duduk bersama teman-temannya. Apabila ia melihat salah seorang diantara mereka memakai baju atau jubah yang robek (atau berlubang), lalu orang itu bangkit dan keluar dari (pintu) masjid, maka Khaitsamah segera mengejarnya dari pintu mesjid yang lain untuk menemuinya dan mengatakan, “Ambillah kantong kain (yang berisi uang) ini dan gunakanlah untuk membeli jubah atau baju!”

Siapakah yang Berhak Anda Jadikan Teman?

Ja’far pernah mendengar Malik bin Dinar berkata kepada Mughirah bin Hubaib, “Setiap saudara, teman dan sahabat yang tidak bisa memberikan nilai tambah kebaikan dalam urusan agamamu, maka putuskanlah persahabatan Anda dengannya.”

Kesedihan Berpisah dengan Amal Shaleh

Qatadah pernah berkata, “Ketika kematian menjemput ‘Amir bin ‘Abdi Qais, seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

‘Amir bin ‘Abdi Qais menjawab, “Aku menangis bukan karena takut mati atau karena kecintaanku kepada dunia. Akan tetapi, yang membuatku menangis adalah kesedihanku karena aku tidak bisa lagi berpuasa dan shalat malam.”

Diantara Hukuman Allah atas Ahli Maksiat

Abdullah berkata :
Pernah ada seorang rahib Bani Israil berkata, “Ya Tuhan, betapa seringnya aku bermaksiat kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menghukumku.”
Kemudian Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi dari kalangan Bani Israil, “Katakanlah kepadanya : Berapa banyak Aku menghukummu, tetapi Engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah mencabut kenikmatan munajatmu dengan-Ku?”

Tawanan di Dunia

al-Hasan al-Bashri pernah berkata, “Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala”

Sesungguhnya Allah Hanya Menerima (Amal) dari Orang yang Bertakwa

Fudhalah bin ‘Ubaid pernah berkata, “Seandainya aku mengetahui bahwa ada diantara amalanku yang diterima oleh Allah meskipun hanya sebesar biji sawi, maka itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (al-Maaidah : 27)

Muraqabatullah (Merasa Diawasi Allah)

Hatim al-Asham pernah berkata, “Perhatikanlah diri Anda dalam tiga keadaan. (1) Jika Anda beramal, maka ingatlah pandangan Allah kepadamu, (2) jika Anda berbicara, maka perhatikanlah pendengaran Allah atas ucapanmu dan (3) jika Anda diam, maka perhatikanlah pengetahuan Allah tentang dirimu.”

Mencintai dan Membenci Sesuatu Karena Allah

Abu Hazim pernah berkata, “Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Dan aku tidak akan berpanjang lebar untuk menjelaskan kedua perkara tersebut kepada Anda.”
Kemudian ia ditanya, “Apa dua perkara itu?”
Abu Hazim menjawab, “Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”

Teman Terbaik dan Terburuk

Yahya pernah berkata, “Sebaik-baik teman adalah yang berkata kepada temannya, “Ayo kita berpuasa sebelum kita mati.” Dan seburuk-buruk teman adalah yang berkata kepada temannya, “Ayo kita makan dan minum sebelum kita mati.”

Diantara Penyebab Terhalangnya Doa

Syaqiq bin Ibrahim berkata :
Ibrahim bin Adham pernah melewati sebuah pasar di kota Bashrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan bertanya kepadanya, “Wahai Abu Ishaq, Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman dalam kitab suci-Nya : “Berdoalah kepadaku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu.” (Ghafir/al-Mukmin) : 60). Kami selalu berdoa sejak lama, tapi tidak kunjung dikabulkan.”

Ibrahim bin Adham berkata :
“Wahai warga Bashrah, hati kalian telah mati dari sepuluh hal :
Pertama, kalian mengenal Allah, tapi tidak mau menunaikan hak-Nya.
Kedua, kalian membaca Kitab Allah, tapi tidak mau mengamalkannya.
Ketiga, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
Keempat, kalian mengaku bermusuhan dengan setan, tapi kalian justru akur dengannya.
Kelima, kalian mengatakan cinta kepada surga, tapi tidak mau beramal untuk menuju ke sana.
Keenam, kalian mengatakan takut kepada neraka, tapi kalian menggadaikan diri kalian kepadanya.
Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tapi kalian tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kedelapan, kalian sibuk mencari aib saudara kalian, tapi mengabaikan aib kalian sendiri.
Kesembilan, kalian memakan karunia Tuhan, tapi tidak mau mensyukurinya.
Kesepuluh, kalian mengubur orang mati, tapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.”

40 Tahun Mengajar al-Qur’an

Abu Ishaq as-Subai’iy pernah menuturkan bahwa Abu Abdirrahman as-Sulami telah mengajar al-Qur’an di masjid selama 40 tahun. Ia meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Abu Abdirrahman berkata,”Itulah yang membuatku betah di tempat tersebut.”

Nasihat untuk Ahli al-Qur’an

Malik bin Dinar pernah berkata,
“Wahai para pengemban al-Qur’an, apa yang ditanamkan al-Qur’an di dalam hatimu?
Sesungguhnya al-Qur’an adalah penyejuk hati orang mukmin, sebagaimana halnya hujan menjadi penyejuk bumi.
Sesungguhnya Allah menurunkan hujan dari langit ke bumi lalu jatuh di tempat yang baik. Di tempat itu pula ada biji, sehingga kebusukan tanahnya tidak menghalangi biji tersebut untuk berkembang, menghijau dan menjadi bagus.
Wahai para pengemban al-Qur’an, apa yang ditanamkan al-Qur’an di dalam hatimu?
Mana orang yang memiliki (menghafal) satu surat? Mana orang yang menghafal dua surat? Apa yang sudah Anda amalkan darinya?”

Sembunyikanlah Kebaikanmu!

Abu Hazim pernah berkata, “Sembunyikan dan tutupilah rapat-rapat kebaikan yang pernah Anda lakukan melebihi rapatnya Anda menutupi dan menyembunyikan keburukan yang pernah Anda lakukan.”

Waspadalah Terhadap Kematian!
Salah seorang ulama salaf pernah berwasiat, “Waspadalah terhadap kematian di dunia, sebelum Anda berpindah ke suatu negeri yang Anda sangat ingin berjumpa dengan kematian di sana, sedangkan Anda tidak akan pernah dapat menemukannya!”
Diantara Golongan Orang yang Paling Menyesal pada Hari Kiamat

Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata, “Ada sebuah ungkapan populer yang menyatakan bahwa diantara tiga golongan orang yang paling menyesal pada hari kiamat : (1) orang yang memiliki budak ketika di dunia, ternyata pada hari kiamat budak tersebut memiliki prestasi amal yang lebih baik darinya, (2) orang yang mempunyai harta tetapi tidak mau bersedekah dengannya sampai ia meninggal dunia, kemudian harta tersebut diwarisi oleh orang yang memanfaatkan harta tersebut untuk bersedekah di jalan Allah, dan (3) orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mau mengambil manfaat dari ilmunya, lalu ilmu tersebut diketahui oleh orang lain yang mampu mengambil manfaat darinya.”

Bersegera Menuju Kebaikan

Khalid bin Ma’dan pernah berkata, “Jika pintu kebaikan dibukakan untuk Anda, maka bergegaslah menuju ke sana. Karena Anda tidak tahu kapan pintu itu akan ditutup.”

Nikmatnya Beribadah

Ibrahim bin Adham pernah berkata, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui kegembiraan dan kenikmatan yang kita rasakan (ketika menuntut ilmu dan beribadah kepada Allah), niscaya mereka akan merampas apa yang kita rasakan tersebut dengan tebasan pedang.”

Syirik dan Riya’

al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, “Meninggalkan amal karana manusia termasuk riya’ (pamer). Adapun beramal karena manusia termasuk perbuatan syirik.”

Syarat Diterimanya Amal

Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata mengomentari firman Allah Subhaanahu Wata’aala dalam surat al-Mulk ayat ke dua :
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

”Supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya”

“Maksudnya, yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas tapi tidak benar, maka tidaklah diterima. Jika amal itu benar tapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima kecuali jika dilakukan secara ikhlas.
Ikhlas artinya dilakukan hanya karena Allah. Adapun benar artinya adalah sesuai dengan sunnah (tuntunan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).”

Amalkanlah Ilmu yang Anda Miliki!

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,
“Wahai para pembawa ilmu, amalkanlah ilmu kalian miliki! Karena yang disebut alim adalah orang yang mengamalkan apa yang ia ketahui dan ilmunya sesuai dengan amalnya. Akan ada suatu kaum yang membawa ilmu tidak melebihi kerongkongan mereka. Ilmu mereka bertentangan dengan amal mereka. Batin mereka bertentangan dengan lahir mereka. Mereka duduk dalam halaqah (majelis ilmu) untuk saling berdebat antara satu dengan yang lain. Sehingga ada seseorang yang marah kepada rekannya, lalu berpindah ke yang lain dan meninggalkan rekannya. Amalan mereka dalam majelis itu tidak akan bisa naik kepada Allah Ta’ala.

Pertanyaan Allah Terhadap Orang yang Jujur dan Pendusta

Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, “Jika kelak (pada hari kiamat) Allah akan menanyakan kepada orang-orang yang jujur seperti nabi Ismail, nabi Isa ‘alaihimas salam [sebagaimana disebutkan dalam surat al-Ahzab ayat 7 & 8] tentang kejujuran mereka, maka bagaimana pula dengan kita yang banyak berdusta?”

Beda Nasihat dan Celaan

Imam asy-Syafi’i pernah berkata, “Barangsiapa menasihati saudaranya secara rahasia, maka ia telah menasihatinya dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasihati saudaranya secara terang-terangan (di hadapan orang banyak), maka ia telah mencemarkan nama baiknya dan mengkhianatinya.”

Pengaruh kebaikan dan Keburukan
al-Mu’tamir bin Sulaiman at-Taimi pernah berkata, “Kebaikan menghidupkan cahaya dalam hati dan kekuatan dalam beramal. Sedangkan keburukan menyebabkan kegelapan dalam hati dan kelemahan dalam beramal.”
Kasihan Terhadap Ahli Maksiat

Abu Sufyan ad-Darani pernah berkata, “Kemarahan pada ahli maksiat hanya terjadi ketika pandangan Anda tertuju ke arah mereka. Namun ketika anda berfikir tentang hukuman akhirat yang akan mereka terima, maka rasa kasihan akan menyergap hati Anda.”

Dua Perkara Pemutus Kesenangan Dunia

Ibrahim at-Taimi berkata : “Dua perkara yang memutuskanku dari menikmati kesenangan dunia : (1) mengingat kematian dan (2) memikirkan keadaanku saat berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan amalanku ketika di dunia.”

Diantara Bentuk Berpaling Dari Allah

Abu Abdurrahman al-‘Umari az-Zahid berkata, “Salah satu bentuk kelalaianmu terhadap dirimu sendiri adalah Anda berpaling dari Allah, yaitu saat Anda melihat sesuatu yang dimurkai oleh-Nya, lalu Anda berlalu begitu saja tanpa melakukan amar ma’ruf nahi munkar karena takut kepada orang yang tidak bisa memberikan manfaat maupun mudharat bagi Anda.

Siapa yang Berhak Anda Beri?

Yazid bin Maisaroh pernah berkata, “Jangan berikan ilmu Anda kepada orang yang tidak mau menuntutnya. Jangan Anda tebarkan mutiara kepada orang yang tidak mau mengambilnya. Dan jangan gelar dagangan Anda di hadapan orang yang akan menghancurkannya.”

Kendalikan Nafsumu!

Abu Bakar al-Warraq pernah berkata, “Mendekatlah kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang dapat menyibukkanmu dari (mengingat) Allah Subhaanahu Wata’aala! Dan ketahuilah, sesungguhnya tidak ada yang lebih menyibukkanmu dari (mengingat) Allah kecuali hawa nafsumu sendiri.”

Pintu Ketaatan & Kemaksiatan

Sufyan ats-Tsauri pernah berkata : “Berpuasalah, karena puasa itu dapat menutup pintu kemaksiatan dan membukakan pintu ketaatan untukmu.”

Riya’ Nafsu yang Tersembunyi

Ibnul Atsir pernah berkata, “Sesungguhnya diantara bagian hawa nafsu yang tersembunyi adalah merasa senang apabila amalan yang kita perbuat dilihat oleh orang lain.”

Diantara Kata Mutiara Yahya bin Muadz

Yahya bin Muadz pernah berkata, “Malam itu panjang, maka jangan pendekkan dengan tidurmu dan siang itu begitu terang maka janganlah kau menjadikannya gelap dengan dosa-dosamu.”

Tiga Perlakuan Mukmin Terhadap Mukmin Lainnya

Berkata Yahya bin Mu’adz, ”Hendaknya setiap mukmin memperoleh tiga macam perlakuan darimu; Jika kamu tidak dapat memberinya sesuatu manfaat maka janganlah membahayakannya, jika kamu tidak bisa membahagiakannya maka janganlah membuatnya sedih, dan jika kamu tidak memujinya maka janganlah mencelanya.”

Carilah Rejeki Dengan Cara yang Halal!

Hisyam pernah bercerita tentang Muhammad bin Sirin, bahwa diantara nasihat yang biasa disampaikannya kepada orang yang akan bepergian untuk berdagang adalah perkataannya : “Bertakwalah kepada Allah dan carilah rejeki yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu dengan cara yang halal, karena sesungguhnya jika Anda mencarinya dengan cara yang tidak halal maka Anda tidak akan mendapatkan melebihi apa yang telah ditakdirkan untukmu.”

Menunda Kebaikan adalah Salah Satu Tentara Iblis

Abu al-Jald pernah berkata, “Menunda-nunda perbuatan baik adalah salah satu tentara diantara bala tentara Iblis yang telah berhasil membinasakan orang banyak.”

Dermawan dan Kikir

Wahab bin Munabbih pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang paling dermawan di dunia adalah orang yang menunaikan hak-hak Allah, walaupun orang lain melihatnya sebagai orang kikir dalam hal lain. Dan sesungguhnya orang yang paling kikir di dunia adalah orang yang kikir terhadap hak-hak Allah, walaupun orang lain melihatnya sebagai orang yang dermawan dalam hal lain.”

Tiga Tabiat Harta

Maimun bin Mahran berkata, “Harta memiliki tiga tabiat. Jika seseorang selamat dari satu tabiat, maka belum tentu ia selamat dari dua tabiat lainnya. Dan jika ia selamat dari dua tabiat, maka belum tentu ia selamat dari tabiat ke tiga.”
Harta haruslah berasal dari sumber yang baik. Siapa diantara kalian yang pekerjaannya selamat dari dosa, sehingga ia tidak mendapatkan penghasilan selain dari yang baik?
Apabila seseorang selamat dari tabiat ini, maka ia harus menunaikan hak-hak yang ada di dalam harta.
Dan apabila ia juga selamat dari tabiat ini, maka ia tidak boleh membelanjakanya dengan boros ataupun terlalu kikir.”

Diantara Rahasia Khusyuk dalam Shalat

Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai Anakku, apabila Engkau akan mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan meninggalkan dunia ini, janganlah Engkau mengira bahwa Engkau akan kembali lagi ke dunia ini. Dan ketahuilah Wahai Anakku, sesungguhnya seorang mukmin itu meninggal dunia diantara dua kebaikan ; kebaikan yang telah ia kerjakan dan kebaikan yang akan ia kerjakan.”

Diantara Buah Qiyamul Lail

Hassan bin Athiyyah pernah berkata : “Barangsiapa terbiasa memanjangkan shalat malam (dengan memanjangkan bacaan al-Qur’an ketika berdiri dalam shalat), maka ia akan merasa ringan ketika harus lama berdiri pada Hari Kiamat kelak.”

Tahapan-tahapan Menuntut Ilmu

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Dulu, ada ungkapan yang menyatakan : “Tahapan pertama ilmu adalah diam. Kedua, mendengarkan dan menghafalkan. Ketiga, mengamalkan. Keempat, menyebarluaskan dan mengajarkan.”

Diantara Keutamaan Mengikuti Sunnah Nabi

Hassan bin ‘Athiyyah berkata, “Dua raka’at yang dilaksanakan sesuai dengan tuntunan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lebih baik daripada tujuh puluh raka’at yang dilaksanakan tidak sesuai dengan sunnah.”

Bid’ah Mematikan Sunnah

Hassan bin Athiyyah pernah berkata : “Tidaklah suatu kaum membuat suatu bid’ah di dalam agama mereka, melainkan Allah akan mencabut sebagian sunnah dari agama meraka sebanding dengan (bid’ah) yang mereka buat. Dan Allah tidak akan mengembalikannya lagi kepada mereka hingga hari kiamat.”

Menikah Dengannya di Surga

Luqman bin ‘Amir menceritakan bahwa Ummu ad-Darda’ pernah berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Abu ad-Darda’ telah melamarku, maka ia pun menikahiku di dunia. Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar Engkau menikahkanku dengannya di surga.

Abu ad-Darda berkata kepadanya, “Jika Engkau menginginkan hal tersebut, dan Aku meninggal dunia lebih dulu darimu, maka janganlah engkau menikah lagi dengan lelaki lain.”

Luqman berkata, “Ternyata Abu ad-Darda’ meninggal lebih dulu dan meninggalkan dua orang anak untuk Ummu ad-Darda’, mereka berdua adalah Jamal dan Hasan. Kemudian Mu’awiyah datang melamarnya.”
Maka Ummu ad-Darda’ berkata, “Tidak. Demi Allah, saya tidak akan menikah dengan laki-laki lain di dunia sampai saya menikah dengan Abu ad-Darda’ di surga kelak – insya Allah – .”
(Jawahir Shifatush Shafwah)

Rahasia di Balik Ucapan Kaum Salaf

Hamdun bin Ahmad pernah ditanya, “Mengapa ucapan kaum salaf (orang-orang shaleh terdahulu) lebih bermanfaat dari ucapan kita?”
Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara untuk kejayaan Islam, keselamatan jiwa dan ridha Allah Yang Maha Pengasih. Sedangkan kita berbicara untuk kejayaan diri sendiri, mencari dunia dan penerimaan makhluk”

Bahaya Bermajelis Bersama Pengekor Hawa Nafsu

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata : “Janganlah Anda duduk-duduk (bermajelis) bersama para pengikut hawa nafsu, karena sesungguhnya duduk-duduk bersama mereka akan membuat hati menjadi sakit.”

Menghadirkan Hati Saat Beribadah

Harom bin Hayyan pernah berkata : “Tidaklah seorang hamba menghadap (beribadah) kepada Allah dengan menghadirkan hatinya, melainkan Allah akan menghadapkan hati orang-orang yang beriman kepadanya, hingga mereka mencintainya.”

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah

Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan tidaklah seorang hamba menganggap remeh hal yang diharamkan, sehingga ia mengambil yang tidak baik, kecuali Allah akan memberinya sesuatu yang lebih berat daripadanya.”

Jauhilah Sifat Sombong, Tamak dan Dengki!

Disebutkan bahwa Aun bin Abdullah datang menemui Al-Fadl bin al-Mahlab yang saat itu sedang berada di tempat Wasith, ia berkata: “Sesungguhnya aku ingin memberimu suatu nasehat.” Lalu Al-Fadl bertanya: “Nasehat apakah itu?”

Aun bin Abdullah menjawab:
“Jauhilah kesombongan, karena sesungguhnya kesombongan adalah dosa yang pertama yang membuat makhluk bermaksiat kepada Allah.” Kemudian ia membaca: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis.” (Al-Baqarah: 34)

“Jauhilah sifat tamak, karena sifat itulah yang mengeluarkan Adam dari Surga, padahal Allah telah menempatkan Adam di Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, ia makan dari berbagai macam tumbuhan yang ada di Surga kecuali satu pohon yang Allah melarang untuk memakan buahnya, akan tetapi karena tamak, maka Adam memakan buah dari pohon terlarang itu, maka Allah mengeluarkannya dari Surga.” Kemudian ia membaca: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (Al-Baqarah: 36).

“Jauhilah dengki, karena sesungguhnya anak Adam membunuh saudaranya saat ia dengki kepada saudaranya.” Kemudian ia membaca: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya.” (Al-Maa’idah: 27)

Tuntutlah Ilmu (Agama)!

‘Urwah bin az-Zubair pernah berkata kepada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku! Tuntutlah ilmu! Sesungguhnya, walaupun kini kalian masih kecil, kelak kalian akan menjadi orang-orang besar. Adakah yang lebih buruk daripada seorang yang sudah tua renta lagi bodoh?”

Mujahadah Terhadap Diri Sendiri

Al-Harits pernah berkata, “Barangsiapa mengoreksi batinnya dengan muraqabah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah) dan ikhlas, maka ia akan menghiasi lahirnya dengan mujahadah dan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, karena Allah berfirman, “Dan orang-orang yang bermujahadah untuk Kami, niscaya akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut : 69)

Bahaya Malas dan Banyak Mengeluh

Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, Jauhilah olehmu sifat malas dan banyak mengeluh, karena sesungguhnya kedua sifat tersebut merupakan kunci dari segala keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, maka engkau tidak akan mampu melaksanakan kewajibanmu. Dan jika engkau banyak mengeluh, maka engkau tidak akan sabar dalam melaksanakan kewajibanmu.” (Jawahir Shifatush Shafwah)

Celaan dan Pujian

Wahb bin Munabbih pernah berkata, “Jika seseorang memujimu dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu, maka janganlah kamu merasa aman dari celaan seseorang terhadapmu atas sesuatu yang tidak ada pada dirimu.” (Jawahir Shifatush Shafwah)

Bahaya Dengki

Seorang bijak berkata: “Orang dengki menentang Tuhannya dengan lima cara, yaitu:
Pertama: Benci terhadap setiap nikmat yang ada pada orang lain.
Kedua: Marah terhadap anugerah Allah, seakan-akan ia berkata kepada Tuhannya: “Mengapa Engkau melakukan pembagian seperti ini?”
Ketiga: Bahwa ia kikir terhadap karunia Allah yaitu bahwa nikmat itu adalah karunia Allah dan Allah akan memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sementara ia kikir terhadap karunia Allah itu.
Keempat: Membiarkan dan tidak menolong orang yang diberi nikmat Allah, karena ia menginginkan kehinaan dan hilangnya nikmat itu darinya.
Kelima: Menolong musuhnya, yaitu iblis yang di laknat Allah.”

Tiga Nasihat Wahab bin Munabbih

Wahab bin Munabbih pernah berkata kepada salah seorang temannya, “Maukah kamu aku ajarkan sebuah ilmu kedokteran yang tidak sulit dipahami oleh para dokter, sebuah ilmu fikih yang tidak sulit dipahami oleh para ahli fikih dan sebuah ilmu kesantunan yang tidak sulit dipahami oleh mereka yang santun?”

“Tentu, wahai Abu Abdillah,” jawab temannya.

Wahab pun bekata, “Ilmu kedokteran yang tidak sulit dipahami oleh para dokter adalah : jangan memakan makanan kecuali Anda membaca basmalah di awalnya dan membaca hamdalah di akhirnya.

Sedangkan ilmu fikih yang tidak sulit dipahami oleh para ahli fikih adalah : jika Anda ditanya tentang sesuatu yang Anda ketahui maka jawablah menurut pengetahuan Anda. Dan jika Anda ditanya tentang sesuatu yang tidak Anda ketahui maka katakanlah ‘Aku tidak tahu’.”

Adapun ilmu kesantunan yang tidak sulit dipahami oleh mereka yang santun adalah : memperbanyak diam, kecuali ketika Anda ingin bertanya tentang sesuatu.”

Bersih Hati Kaum Salaf

Dari Sufyan bin Dinar, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Basyar: “Beritahukan kepadaku tentang apa yang dilakukan orang-orang sebelum kita?”.
Abu Basyar berkata: “Mereka melakukan pekerjaan yang ringan akan tetapi mereka mendapat pahala yang banyak”.
Sufyan berkata: “Mengapa bisa demikian?”.
Abu Basyar menjawab: “Karena hati mereka bersih”.

Tangisan Karena Takut Kepada Allah

Yazid bin Maisarah pernah berkata : “Tangisan ada tujuh macam : tangisan karena suka cita, tangisan karena duka cita, tangisan karena ketakutan, tangisan karena riya’, tangisan karena kesakitan, tangisan karena kesyukuran dan tangisan karena takut kepada Allah subhanahu wata’aala. Tangisan yang terakhir (yaitu tangisan karena takut kepada Allah), setetes air matanya dapat memadamkan seluas lautan api neraka.”

Diantara Tanda Husnul Khatimah

Ka’ab al-Ahbar berkata : “Jika Anda ingin mengetahui apa yang didapatkan oleh seseorang di sisi Allah, maka perhatikanlah pujian baik yang mengikuti kematiannya.”

Keutamaan Sedekah Secara Tersembunyi

Dari Abu Hamzah ats-Tsumali diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Dahulu Ali bin al-Husain biasa memanggul karung (makanan) setiap malam untuk disedekahkan. Dan beliau pernah berkata, “Sesungguhnya sedekah yang dilakukan secara diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla”

Ikhlas dalam Menyampaikan Nasehat

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Tidak akan bermanfaat bagi hati, selain apa yang keluar dari hati.”

Menyesal Karena Tidak Sempat Berjihad

Ahmad bin Ibrahim berkata (tentang Yunus) : “Menjelang kematiannya, Yunus sempat memandangi kedua kakinya dan ia menangis. Kemudian ia ditanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Abdillah?”
Ia menjawab, “Kedua kakiku ini belum pernah terkena debu karena berperang di jalan Allah.”

Lima Pekerti Keberanian

Sirri as-Saqti berkata : “Jika seseorang memiliki lima hal ini, maka ia adalah figur pemberani dan seorang pahlawan. Lima hal tersebut adalah : (1) istiqamah terhadap perintah Allah tanpa tipu daya, (2) serius tanpa disertai lupa, (3) siap siaga tanpa disertai kelalaian, (4) muraqabatullah (selalu merasa diawasi Allah) di kala menyendiri maupun bersama orang banyak tanpa disertai riya’ dan (5) mengantisipasi kematian dengan bersiap-siap.”

Seorang Khalifah Melayani Seorang Nenek

Al-‘Auzai’i berkata, “Umar bin Khaththab pernah keluar di tengah kegelapan malam, lalu dilihat oleh Thalhah. Umar memasuki sebuah rumah lalu masuk ke rumah lainnya. Pada keesokan harinya, Thalhah pergi ke rumah itu, ternyata di dalamnya ada seorang nenek yang buta dan lumpuh. Ia bertanya, “Mengapa orang itu datang kepadamu?” Nenek itu menjawab, “Ia secara rutin mendatangiku semenjak begini dan begini untuk mengurusku dan mengeluarkan kotoranku.” Lalu Thalhah bergumam sendiri, “Celakalah engkau wahai Thalhah, apakah engkau hendak mencari-cari kesalahan Umar?”

Amalkanlah Ilmu Sebelum Engkau Sampaikan Kepada Orang Lain!

Malik bin Dinar berkata, “Ulama yang tidak mau mengamalkan ilmunya, ceramahnya akan meleset dari hati pendengarnya, seperti tetesan air yang meleset dari batu yang licin.”

Berbaik Sangka Terhadap Sesama Muslim

Abdul Aziz bin Umar berkata, Ayahku pernah berkata kepadaku, “Anakku, jika engkau mendengar ucapan dari seorang muslim, maka janganlah memahaminya secara negatif selama masih ada kemungkinan untuk dipahami secara positif.”

Memandang Rendah Diri Sendiri

Muhamad bin Wasi’ pernah berkata, “Andaikata dosa itu mempunyai bau, niscaya kalian tidak akan sanggup berdekatan denganku karena busuknya bauku.”
[Muhammad bin Wasi’ adalah salah seorang imam, ulama dan ahli ibadah dari kalangan tabi’in]

Diantara Etika Mendengarkan Ilmu

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Sungguh, terkadang ada seseorang yang menyampaikan hadits kepadaku padahal aku lebih tahu tentang hadits tersebut daripada dia. Akan tetapi, aku tetap mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, seolah-olah aku belum pernah mendengarnya.”

Contoh Sikap Itsar Penduduk Madinah

Mujahid berkata, “Di kota Madinah pernah ada sebuah keluarga miskin yang mempunyai satu kepala kambing (untuk dimakan), lalu mereka mendapatkan sesuatu (selain kepala kambing tersebut). Mereka berkata, “Sebaiknya kepala kambing ini kita berikan kepada orang yang lebih membutuhkan daripada kita.” Mereka pun memberikan kepala kambing tersebut kepada orang lain. Ternyata, orang yang diberi tidak memakannya, akan tetapi ia memberikannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan dari dirinya dan demikian seterusnya. Kepala kambing itu terus berpindah tangan diantara penduduk kota Madinah sampai akhirnya kembali lagi kepada keluarga yang mengeluarkannya pertama kali.”
(Itsar : mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan pribadi)

Bermanfaatkah Pertanyaanku?

Hassan bin Abi Sinan pernah melewati sebuah bangunan, lalu ia bertanya, “Sejak kapan bangunan ini berdiri?”
Tak lama kemudian, ia balik bertanya kepada dirinya sendiri seraya berkata, “Tidak ada urusan denganmu sejak kapan bangunan itu berdiri. Engkau telah menanyakan sesuatu yang tidak penting bagimu.”

Lisan Cerminan Hati

Yahya bin Muadz berkata, “Hati itu seperti kuali yang mendidih di dalam dada seseorang yang mendidihkan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Dan sendoknya adalah lisannya. Maka tunggulah seseorang sampai ia berbicara, karena lisannya sedang menyendok sesuatu dari hatinya, mulai dari yang manis, asam, tawar dan pahit untuk diberikan kepada Anda. Sendokan lisannya itulah yang akan memberi tahu anda tentang cita rasa hatinya.”

Trik Cantik Menggapai Kerendahan Hati

Apabila Bakar bin Abdullah al-Muzani melihat orang yang lebih tua, ia berkata, “Ia lebih baik dariku, karena Ia telah beribadah kepada Allah sebelumku.”
Apabila ia melihat orang yang lebih muda, ia berkata, “Ia lebih baik dariku, karena aku telah lebih dulu berbuat dosa sebelum Dia.”

Zuhud Terhadap Kekuasaan

Yusuf bin Asbath berkata, “Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri berkata, ‘Aku melihat bahwa zuhud yang tersulit bagi seseorang adalah zuhud terhadap kekuasaan. Anda bisa melihat orang bersikap zuhud terhadap makanan, minuman, kekayaan dan pakaian. Tetapi bila ada pembagian kekuasaan, maka ia berebut dan bersaing untuk mendapatkannya.’

Tiga Bentuk Kesabaran

Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, “Tiga hal yang termasuk dalam bagian kesabaran adalah : (1) jangan menceritakan kemaksiatan yang pernah Anda lakukan, (2) jangan menceritakan sakit yang Anda derita dan (3) jangan merasa diri Anda suci.”

Menundukkan Syahwat

Wahab bin Munabbih berkata, “Barang siapa menjadikan syahwatnya di bawah telapak kakinya, maka setan akan ketakutan pada bayangannya. Dan barangsiapa kesantunannya mampu mengalahkan hawa nafsunya, maka itulah orang yang berilmu lagi perkasa.”

9 Amalan Lisan

Ibnu Sirin meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Jangan banyak mengucapkan sesuatu selain sembilan hal : tasbih, takbir, tahlil, tahmid, meminta kebaikan, memohon perlindungan dari keburukan, menyuruh berbuat kebajikan, mencegah perbuatan munkar dan membaca al-Qur’an.”

Kecaman Terhadap Pecinta Popularitas

Bisyr bin Harits berkata, “Aku tidak mengetahui orang yang ingin terkenal, melainkan agamanya hilang dan aibnya terbongkar.”
Ia juga berkata, “Tidak akan menemukan manisnya akhirat, orang yang ingin dikenal orang banyak.”

Jangan Menggunjing dan Jangan Biarkan Orang Lain Menggunjing!

Musa bin Ibrahim berkata, “Aku pernah datang ke tempat Ma’ruf dan ternyata di sisinya ada seorang pria yang sedang menggunjing pria lainnya. Maka Ma’ruf berkata kepadanya, “Ingatlah ketika kapas diletakkan di matamu.”
Hazm berkata, “Maimun bin Siyah tidak mau menggunjing dan tidak membiarkan siapapun menggunjing di sisinya. (Jika ada seseorang yang sedang menggunjing orang lain,) ia pasti mencegahnya. Jika tidak berhasil, ia akan meninggalkannya.”

Perdebatan yang Tercela dan Kecaman Terhadapnya

Imam al-Auza’i berkata, :Tinggalkanlah perdebatan yang bisa memfitnah hati, menumbuhkan dendam, mengeraskan hati dan menipiskan kehati-hatian ketika berbicara dan berbuat.”
Dan beliau mendengar Bilal bin Sa’ad berkata, “Jika Anda melihat seseorang yang keras kepala, suka berdebat dan bangga pada pendapatnya sendiri, maka sempurnalah kerugiannya.”

Membenarkan Sumpah Seorang Muslim

Berkata al-‘Auza’i : Di hari meninggalnya salah seorang putra dari Bilal bin Sa’d, datang seorang lelaki mengaku bahwa putra dari Bilal bin Sa’d tersebut berhutang sebanyak dua puluh lima dinar kepadanya dan menuntut pelunasan hutang tersebut dari Bilal bin Sa’d.
Bilal : “Apakah Anda mempunyai saksi untuk itu?” Sang lelaki : “Tidak.”
Bilal : “Apakah Anda mempunyai bukti tertulis?” Sang lelaki : “Tidak.”
Bilal : “Maukah Anda bersumpah dengan nama Allah bahwa anakku benar-benar berhutang kepada Anda sebanyak yang Anda sebutkan?”
Sang lelaki : “Ya.”
Maka lelaki itu pun bersumpah. Setelah mendengar sumpah lelaki tersebut, Bilal masuk ke dalam rumahnya dan memberikan dua pulih lima dinar kepada lelaki tersebut seraya berkata, “Kalau Anda jujur dalam sumpahmu, berarti saya telah melunasi hutang anakku kepadamu, akan tetapi jika anda berdusta, maka anggaplah harta yang baru saja Anda ambil itu sebagai shadaqah dariku.”

Penyakit Ujub dan Terapi Penyembuhannya
Bisyr bin Harits berkata, “Ujub adalah menganggap banyak amal sendiri dan menganggap sedikit amal manusia atau amal orang lain.”

Abu Sulaiman ad-Darani pernah berkata, “Bagaimana mungkin seorang yang berakal bisa merasa ujub ? Padahal amal termasuk bagian dari karunia Allah yang seharusnya disyukuri dan membuatnya merasa rendah hati.”

Allah Mengetahui yang Lahir dan yang Batin

Jika Anda duduk di hadapan manusia untuk menyampaikan nasihat atau pelajaran, maka jadilah penasihat untuk dirimu dan hatimu sendiri. Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya orang yang berkumpul di sekitarmu, karena mereka semua hanya mengetahui hal-hal yang lahir dari dirimu, akan tetapi Allah mengetahui apa apa yang ada di dalam batinmu.” (Abu Hafs)

Hartamu Tidak Akan Meninggalkanmu

Dari ‘Umar bin Maimun dari Ayahnya, ia berkata, “Diberitakan kepada Ibnu ‘Umar bahwa salah seorang sahabat Nabi dari kaum Anshar telah meninggal dunia, maka Ibnu ‘Umar pun berdo’a untuknya dengan ucapannya, “Semoga Allah merahmatinya.” Sang pembawa berita berkata, “Dia meninggalkan harta sebanyak seratus ribu dinar.” Ibnu’Umar berkata : ”Akan tetapi harta tersebut tidak akan meninggalkannya (karena ia tetap akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah kelak di hari Kiamat).”
[Sumber : Jauhar Shifatush Shafwah]

Keutamaan Ilmu

“Sekiranya kesibukan mencari ilmu tidak memberikan manfaat selain menghilangkan penyakit was-was dan menghapus angan-angan yang hanya menjadi ganjalan dalam hati dan beban fikiran yang menyakitkan, niscaya hal tersebut cukup menjadi pendorong seseorang untuk menuntut ilmu. Apalagi kalau di samping itu semua, ternyata ilmu membawa sederet kemuliaan yang terlalu panjang untuk disebutkan satu per satu.” (Ibnu Hazm)

Mintalah kepada Allah Keselamatan !

Apabila Anda melihat saudaramu terjerumus ke dalam suatu perbuatan dosa, maka janganlah Anda menjadi penolong syetan untuk mencelakakannya dengan berkata, “Ya Allah hinakanlah dia! Ya Allah laknatilah dia!” akan tetapi mintalah kepada Allah keselamatan atas dirimu agar Anda tidak tejerumus ke dalam perbuatan dosa yang sama seperti yang ia lakukan. (Abdullah bin Mas’ud)

Tetap Bersyukur Walau Ditimpa Musibah

Sungguh, aku telah ditimpa suatu musibah, tetapi aku tetap bersyukur kepada Allah karena empat perkara : (1) aku bersyukur kepada-Nya karena aku tidak ditimpa musibah yang lebih besar dari musibah yang telah menimpaku,
(2) aku bersyukur kepada-Nya karena Dia menganugerahkan kepadaku kesabaran atas musibah tersebut,
(3) aku bersyukur kepada-Nya karena Dia memberikan taufik kepadaku untuk ber-istirja’ dan berharap pahala dari-Nya dan
(4) aku bersyukur kepada-Nya karena Ia tidak menjadikan musibah tersebut dalam agamaku.
(Syuraih al-Qadhi)

Betapa Indahnya ..

Alangkah indahnya iman apabila dihiasi dengan ilmu. Betapa indahnya ilmu apabila dihiasi dengan amal. Sungguh sangat indah amal apabila dihiasi dengan kelembutan dan kasih sayang. Dan tidak ada dua perkara yang berkumpul menjadi satu, yang lebih baik daripada bekumpulnya ketenangan dan ilmu.
[Sumber : Mausu’ah aqwaalil hukama’]

Cukuplah Kematian Sebagai Penasehat

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata : “Tidak ada sakit yang lebih parah daripada sakitnya hati karena banyaknya dosa yang dilakukan, dan tidak ada kesulitan yang melebihi sulitnya kematian. Cukuplah apa-apa yang telah berlalu sebagai bahan renungan, dan cukuplah kematian sebagai penasehat.”

Kepada Siapa Anda Bermaksiat ?
Bilal bin Sa’ad berkata :“Janganlah Anda melihat kecilnya dosa suatu maksiat yang Anda lakukan (sehingga Anda meremehkannya), tapi lihatlah kepada siapa Anda bermaksiat?”(Jauhar Shifatush Shafwah)
Aku Berharap Allah Mengampunimu
Seorang lelaki mendatangi ‘Ali bin al-Husain radiyallahu ‘anhu dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya fulan telah menyebutkan sesuatu yang buruk tentang Anda.” ‘Ali pun berkata, “Mari kita pergi menemui fulan!” Maka lelaki tersebut pun pergi besama ‘Ali untuk menemui fulan, lelaki tersebut mengira bahwa ‘Ali akan membela dirinya di hadapan fulan. Ketika mereka berdua bertemu dengan fulan, ‘Ali berkata, “Wahai fulan, seandainya apa yang telah engkau katakan tentang aku itu benar, maka aku maka aku berharap Allah mengampuniku. Akan tetapi, jika apa yang kau katakan itu tidak benar, maka aku berharap Allah mengampunimu” (Sumber : Jauhar Shifatush Shafwah)
Menangis Karena Takut Kepada Allah
Berkata Ka’ab al-Ahbar bin Mati’ :“Demi Allah, saya menangis karena takut kepada Allah hingga menetes air mataku dipipiku, lebih aku sukai daripada bershadaqah dengan emas seberat badanku. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak mungkin disentuh api neraka, seorang hamba yang menangis karena takut kepada Allah hingga menetes air matanya ke tanah, sampai air hujan yang turun ke bumi kembali lagi ke langit. Dan air hujan yang telah turun ke bumi, tidak akan pernah kembali lagi ke langit selama-lamanya.”
Kebaikan menghapus keburukan
Ketahuilah, banyak orang yang berpakaian putih bersih namun ternoda agamanya, berapa banyak orang yang memuliakan dirinya namun ternyata malah dihinakan oleh diri sendiri. Ingatlah, segera (kau hapus) keburukan yang telah lalu dengan kebaikan yang masih baru. (Abu Ubaidah ibnul Jarrah/Az Zuhd, Imam Ahmad)
Mukmin dan Jahil
Manusia ada dua macam, mukmin dan jahil (bodoh), adapaun orang mukmin maka jangan engkau sakiti, sedangkan yang bodoh jangan kau bodohi. (Ar Rabi’ bin Khaitsam/Az Zuhd, Imam Ahmad)
Hati yang lurus
Seseorang tidak bisa dipegang amanahnya sehingga lurus lisannya, dan dia tidak lurus lisannya sehingga lurus hatinya. (al Hasan al Bashri/Al Adab asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih)
Obat hati
Memohonlah kepada Allah supaya memperbaiki hati dan niatmu, karena tidak ada sesuatu yang paling berat untuk kau obati selain keduanya. Ketika hatimu sedang menghadap (Allah) maka seketika mungkin untuk berpaling, maka ketika menghadap itulah engkau harus merampasnya supaya tidak berpaling. (Uwais al Qarni/ Bahjatul Majalis, Ibnu Abdil Barr)
Arti raut muka
Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu, melainkan Allah akan menampakkannya melalui raut mukanya dan ketergelinciran mulutnya. (Utsman bin ‘Affan/al Adab asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih)
Bahaya Takabur
Tidaklah aku melihat seseorang yang takabbur terhadap yang berada dibawahnya melainkan dia di timpakan oleh Allah kehinaan melalui orang lain yang lebih tinggi darinya.(Abu Hatim al Basati/ Raudhatul ‘Uqala’, Ibnu Hibban)
Cinta Dunia
Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya. (Salman al Farisi / Az Zuhd, Imam Ahmad)
Mencari ridha Allah
Barang siapa yang dibenci manusia karena mencari ridha Allah maka manusia (yang lain) akan mencukupinya (membelanya). Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan murka Allah maka Allah akan serahkan dia kepada munusia juga. (Ummul Mu’minin Aisyah ra/ Az Zuhd, Imam Ahmad)
Nilai Keimanan
Barang siapa yang rela dengan ketetapan Allah maka ketetapan itu berlaku padanya dan ia mendapatkan pahala. Dan barang siapa yang tidak rela dengan ketetapan Allah maka ketetapan itu juga tetap berlaku padanya, sedangkan ia terputus amalnya. (Ali bin Abi Thalib/Mukhtashar Minhajul Qashidin, al Maqdisi)
Orang Alim
Orang alim itu bukanlah yang mengetahui kebaikan dari yang buruk, tetapi orang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu menjauhinya. (Sufyan bin Uyainah/ Az Zuhd, Imam Ahmad)
Tiga Perkara
“Ada tiga perkara pada diriku, aku tidak menyebutkannya kecuali supaya dapat diambil pelajaran, Pertama “Aku tidak mendatangi penguasa (sulthan) kecuali jika di undang, kedua, Aku tidak masuk pada dua orang kecuali setelah keduanya mempersilahkanku masuk diantara mereka, ketiga, tidaklah aku menyebutkan seseorang setelah dia pergi dari sisiku kecuali kebaikan-kebaikan.” (Al Ahnaf bin Qais)
Beratnya hasad
Tidak ada satu bentuk keburukan pun yang sebanding dengan hasad, seorang yang hasad mampu membunuh orang lain sebelum dia sampai kepada sasarannya (orang yang dia dengki). (Muawiyah bin Abu Sufyan/ Adabu ad Dunya wad Din, al Mawardi)
Jangan Berkhalwah
Janganlah engkau berkhalwah (berduaan) dengan wanita tanpa ada mahramnya, walaupun jiwamu mengatakan hanya untuk mengajarinya al-Qur’an. (Umar bin Abdul Aziz/ Sirah Umar, Ibnul Jauzi).
Tidur telungkup
Laranglah anak tidur tertelungkup dan dibiasakan tidur dengan miring ke kanan.
Melarang anak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.
Dengan tangan kanan
Biasakan anak mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.

Biasakan anak mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.

Pengadu Domba tak Pernah Jujur
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Sulaiman bin Abdul Malik sedang duduk, dan di sisinya ada az-Zuhri. Lalu datanglah seorang laki-laki, maka Sulaiman berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku bahwa engkau membicarakan tentang diriku, dan engkau katakan begini dan begini.” Maka orang itu menjawab, “Aku tidak pernah melakukan itu dan tidak pernah mengatakan itu.” Maka Sulaiman berkata, “Sesungguhnya orang yang memberitahu aku adalah seorang yang jujur.” Maka az-Zuhri pun berkata, “Seorang pengadu domba itu tidak akan pernah jujur.” Maka Sulaiman berkata, “Engkau benar.” Lalu dia berkata kepada laki-laki tersebut, ”Pergilah engkau dengan selamat.” (Ihya’ Ulumiddin 3/156, al-Ghazali)
Tidak Ada Kepercayaan
Berkata Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, “Jangan engkau melibatkan diri dalam hal yang bukan menjadi urusanmu, jauhilah musuhmu, jagalah dirimu dari teman-temanmu kecuali terhadap orang yang terpercaya, karena orang yang terpercaya tidak ada satu pun yang dapat menyamainya. Tidak ada kepercayaan kecuali kepada orang yang takut kepada Allah, janganlah engkau bergaul dengan orang fajir karena dia akan menyeretmu ke dalam fujur (keburukan), dan janganlah engkau beritahukan rahasiamu kepadanya dan bermusyawarahlah di dalam urusanmu dengan orang yang takut kepada Allah. (Az-Zuhd, Abdullah Ibnul Mubarok)
Haman Mencelakakan Firaun dan Firaun Mencelakakan Haman

Telah menceritakan al-Imam, al-Qudwah, al-‘Abid, al-Faqih Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri al-Kufi rahimahullah Ta’ala, “Ketika Abu Ja’far al-Manshur pergi haji dia berkata, “Aku harus menemui Sufyan. Maka dia pun memerintahkan pengawal untuk menjaga rumahku lalu dia menemuiku di malam hari. Tatkala aku telah berhadapan dengannya maka dia mendekatiku lalu berkata, “Ada apa denganmu, mengapa engkau tidak datang kepada kami, agar kami meminta pendapatmu dalam urusan kami. Apa yang engkau perintahkan maka kami kerjakan dan apa yang engkau larang kami meninggalkannya?

Maka aku (Sufyan) menjawab, ”Berapa banyak engkau telah membelanjakan harta untuk safarmu ini? Dia menjawab, “Aku tidak tahu, tetapi aku punya orang kepecayaan dan wakil-wakil. Aku berkata, “Apa jawabanmu kelak jika engkau berdiri di hadapan Allah Ta’ala dan Dia bertanya tentang hal itu? Sedangkan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika pergi haji dia berkata kepada pembantunya, “Berapakah yang engkau belanjakan untuk safar kita ini? Dia menjawab, “Delapan belas dinar wahai Amirul Mukminin.”
Abu Ja’far Al-Manshur berkata (untuk dirinya sendiri), “Celakalah engkau, apakah engkau menghabiskan harta baitul mal kaum muslimin padahal engkau telah mendengar apa yang diucapkan oleh Manshur bin Imar, sedangkan kamu hadir ketika itu, diriwayatkan dari Ibrahim dari al-Aswad, dari Alqamah dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Berapa banyak orang yang mempermainkan harta Allah dan harta Rasulullah untuk apa saja yang dia kehendaki, lalu dia besoknya mendapati api neraka.”
Maka Abu Ubaid al-Katib salah seorang dekatnya Abu Ja’far berkata (kepada Sufyan), “Apakah Amirul Mukminin disambut dengan perlakukan seperti ini?”
Sufyan lalu menjawab, “Diamlah kamu, Sesungguhnya Haman lah yang telah mencelakakan Firaun dan Firaun yang telah mencelakan Haman.”

Paling Berani Berfatwa

Diriwayatkan dari Hajjaj bin Umair bin Sa’d, dia berkata, “Aku bertanya kepada Alqamah tentang suatu masalah, maka dia berkata, “Datanglah engkau kepada Ubaidah! Maka aku datang kepadanya, namun dia berkata, “Datanglah engkau kepada Alqamah!” Aku menjawab, “Alqamah justru menyuruhku datang kepadamu.” Maka dia berkata, “Datanglah kepada Masruq.” Maka aku datang kepada Masruq dan bertanya kepadanya. Masruq menjawab, “Datanglah engkau kepada Alqamah dan bertanyalah kepadanya!” Aku lalu menjawab, “Alqamah menyuruhku datang kepada Ubaidah dan Ubaidah menyuruhku datang kepadamu.” Maka Masruq berkata, “Datangilah Abdur Rahman bin Abi Laila!”

Maka aku pun datang kepada Abdur Rahman bin Abi Laila, lalu aku bertanya kepadanya, akan tetapi dia pun bersikap enggan. Lalu aku kembali lagi kepada Alqamah, dan aku memberitahukan tentang hal itu. Maka dia berkata, “Pernah dikatakan bahwa orang yang paling berani memberikan fatwa adalah orang yang dangkal ilmunya.” (Akhlaqul Ulama’ hal 110-111, al-Ajuri)

Bertemu Allah Melanggar Sumpah
Diriwayatkan dari Ibrahim bin Sa’id al Jauhari, dia berkata, ”Seseorang dibawa ke hadapan Khalifah al-Ma’mun karena telah melakukan suatu tindak kejahatan. Maka berkatalah al-Ma’mun kepadanya, ”Demi Allah, sungguh aku akan menghukum mati kamu!” Maka terdakwa itu menjawab, ”Wahai Amirul Mukminin berilah keringanan kepadaku, karena sesungguhnya sifat santun adalah sebagian dari ampunan! Khalifah al-Ma’mun menjawab, ”Bagaimana mungkin, karena aku telah bersumpah untuk membunuhmu? Si terdakwa lalu menjawab, “Anda bertemu Allah dalam keadan melanggar sumpah lebih baik daripada bertemu dengan-Nya dalam keadaan membunuh.” Maka Al-ma’mun lalu membebaskannya. (Tarikh al-Khulafa’ hal 320, Imam Jalaluddin as-Suyuthi)
Qona’ah
Salah seorang pembesar bani Umayyah menulis surat kepada Abu Hazim -rahimahullah- supaya menyampaikan kepadanya berbagi keperluannya. Maka Abu Hazim membalas surat itu seraya menulis, “Aku telah menyampaikan segenap hajatku kepada Maulaku (Allah), maka apa saja yang Dia berikan kepadaku aku menerimanya, dan apa saja yang Dia tahan dariku, maka aku bersikap qana’ah (merelakannya).” (dikutip dari buku al-qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath thariq ilaiha hal 21, referensi asli al-Ihya’ 3/239)

 

Keadilan Kunci Baiknya Rakyat
Abu Ja’far al-Manshur seorang khalifah Bani Abbasiyah menasehati putranya, “Sesungguhnya khalifah tidak akan baik kecuali dengan takwa, kekuasaan tidak akan baik kecuali dengan ketaatan, dan rakyat tidak akan baik kecuali dengan keadilan. Orang yang paling utama untuk memberikan maaf adalah yang paling mampu untuk menghukum dan orang yang paling kurang akalnya ialah yang menzhalimi siapa saja yang di bawahnya. Wahai anakku langgengkan nikmat dengan bersyukur, ketaatan dengan kelembutan, dukungan dengan tawadhu’ dan kasih sayang kepada orang. Dan janganlah engkau lupa bagianmu di dunia dan bagianmu seteleh engkau mati. (al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir 10/126)
Ketergelinciran ‘Alim ketergelinciran alam
Disebutkan di dalam mukaddimah kitab “Hasyiyah Ibnu Abidin” juz 1 hal 67, bahwa Imam Abu Hanifah melihat seorang bocah remaja sedang bermain di atas tanah liat, maka beliau berkata kepada anak tersebut, “Wahai anak berhati- hatilah, jangan sampai engkau tergelincir di atas tanah.” Maka anak tersebut menjawab kepada sang Imam, “Berhati-hatilah juga anda dari tergelincir, karena tergelincirnya orang ‘alim adalah tergelincirnya alam.” Dan setelah mendengar ucapan anak itu, maka beliau tidak memberikan fatwa kecuali setelah mempelajari masalah bersama murid-muridnya selama sebulan.
Seburuk-buruk Saudara
Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mutahaabbin fillah hal 79 menyebutkan tentang al-Aswad bin Katsir, bahwa dia berkata,” Aku mengadukan suatu hajat dan kekurangan yang menimpa beberapa saudara kepada Muhammad bin Ali bin al-Husain. Maka beliau berkata,”Seburuk-buruk saudara adalah yang menyambung persaudaraan ketika engkau kaya dan memutuskannya ketika engkau fakir.” Maka dia mengutus pembantunya mengambil sekantong uang berisi tujuh ratus dirham, seraya berkata, “Belanjakanlah ini dan kalau habis beri tahu aku.”
Juallah Duniamu dengan Akhiratmu
Disebutkan di dalam kitab “Tahdzib al-Kamal” (6/116) dan “Hilyatul Auliyaa”(2/143) di dalam tarjamah Al-Imam, sayyidut Tabi’in,az-Zahid Al-Hasan bin al-Hasan Abu Said al Bashri, beliau berkata, “Wahai anak Adam, juallah duniamu dengan akhiratmu maka engkau mendapatkan keuntungan keduanya, dan janganlah engkau jual akhiratmu dengan duniamu karena engkau akan rugi kedua-duanya.”
Manajemen Lisan
Hati orang yang Dungu berada di mulutnya, sedang mulut orang yang bijak berada di hatinya.
Kerajaan Senilai Tegukan Air
Disebutkan di dalam kitab “Syadzrat ad-Dzahab fi Akhbar man Dzahab” karya Ibnu ‘Imad al-Hanbali juz 1/336 dalam tarjamah (biografi) Khalifah Harun al-Rasyid rahimahullah, beliau menuliskan, “Ibnu Samak datang kepada ar-Rasyid, maka ar-Rasyid menyediakan untuk beliau air minum, lalu Ibnu Samak berkata, “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, seandainya engkau terhalang tidak dapat meminum air maka berapa anda akan menebusnya? Ar-Rasyid menjawab, “Dengan kerajaanku.” Ibnu Samak lalu bertanya lagi, Andaikan anda tidak dapat mengeluarkannya (membuangnya) dengan apa anda menebusanya? Dia menjawab, “Dengan kerajaanku.” Maka berkata Ibnu Samak, “Sesungguhnya kekuasaan hanyalah senilai tegukan air, maka selayaknya dia tidak diperebutkan.”
Mutiara Kata (1)
Sesungguhnya lidah orang bijak itu ada dibalik hatinya.
Apabila dia ingin berkata maka dia kembali kepada hatinya.
Jika itu bermanfa’at baginya maka dia berkata.
Namun jika itu berdampak buruk baginya maka diapun menahan mulutnya.
Sedangkan orang bodoh, hatinya berada diujung lidahnya.
Dia tidak kembali kepada hatinya.
Apa saja yang ada dimulutnya maka dia ucapkan.
(Manajemen Lisan/Darul Haq)
Mutiara Kata (2)
Keanehan dari orang yang mengucapkan perkataan tentang seseorang (menggunjing) adalah, jika perkataan itu dilaporkan kepada yang bersangkutan maka akan mendatangkan madharat baginya.
Dan jika perkataan itu tidak disampaikan maka dia juga tidak memberikan manfa’at kepadanya.
Wasiat Ayah kepada Anaknya (1)
“Hai anakku waspadalah engkau dari orang yang dermawan andai kamu merendahkannya, terhadap orang yang pandai jika dirimu melukainya, dari seorang pencela apabila kamu memuliakannya, terhadap seorang pezina seandainya engkau berteman dengannya, dari orang yang bodoh apabila dirimu mencandainya.

Sesungguhnya aku telah mengecap segala kenikmatan semuanya, namun belum pernah kudapatkan kenikmatan senikmat kesehatan, dan aku sudah mengecap bermacam kepahitan namun tidak ada rasa pahit melebihi pahitnya butuh kepada manusia, dan telah kuangkat besi dan salib namun tak ada beban melebihi beratnya hutang.

Ketahuilah sesungguhnya masa itu hanya dua hari; satu hari untukmu dan satu hari sebagai tanggunganmu. Jika hari itu untukmu maka jangan kau sia-siakan, dan jika hari itu menjadi tanggunganmu maka bersabarlah, karena keduanya akan ditemui”.

Wasiat Ayah Kepada Anakny (2)
Jauhilah tujuh perkara, maka badan dan hatimu akan tenang, kehormatan dan agamamu akan selamat;
Janganlah kamu sedih terhadap apa-apa yang luput darimu,
Janganlah kamu gundah terhadap apa-apa yang belum menimpa dirimu,
Janganlah engkau menuntut imbalan terhadap apa yang belum kau kerjakan,
Janganlah engkau cela orang padahal dia sepertimu,
Janganlah kamu marah terhadap seseorang yang kemarahannya tidak membahayakan dirimu,
Janganlah kamu puji seseorang sedang dirimu belum mengetahui kejelekannya,
Janganlah kamu melihat dengan hawa nafsu apa-apa yang belum menjadi milikmu
Wasiat Ayah kepada Anaknya (3)

Hai anakku! Sesungguhnya sebagian ucapan itu lebih tajam dari mata pedang, lebih keras dari batu, lebih pahit dari kesabaran, serta lebih menusuk dari ujung jarum. Sesungguhnya hati itu adalah tempat persemaian bagi perkataan yang baik.

 

About evadailami

Hamba Allah yang ingin banyak belajar dari kalian

Posted on April 9, 2013, in Nasehat dan Wasiat. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: