Dzikir mengingat Allah

Zikir, ingat Allah,merupakan praktik sekaligus keadaan esoteris. Sebagai keadaan esoteris, zikir mengandung paradoks: sekalipun zikir berarti” ingat,” tetapi pengalaman puncak yang dituju praktik zikir merupakan pengalaman lupa segalanya kecuali Allah. Dalam keadaan segenap perhatian tercurah kepada menyebut nama Allah, segalanya hilang dari orbit persepsi dan imajinasi

Zikir dialami pada banyak tataran. Pada tataran yang paling luar, zikir merupakan berulang-ulang menyebut nama Allah. Berulang-ulang menyebut nama Allah ini pada dasarnya merupakan praktik mekanis yang di lakukan dengan bersuara, menyebut nama suci atau bacaan suci dengan lidah ( dzikir al-lisan) atau dengan tidak bersuara, perhatian hati kepada nama suci tampa mengucapkan nama itu. Namun ini hanyalah zikir tahap persiapan.

Berulang-ulang menyebut nama Allah yang bersifat mekanis ini menciptakan ” saluran ” dalam hati wahana kesadaran yang sifatnya esoteris. Bila kita terus menerus melakukan praktik zikir, kita tidak akan menaruh perhatian pada proses berpikir yang tak ada ujung pangkalnya yang terus berlangsung, dan kita akan memusatkan perhatian kepada satu titik.

Hati di pandang sebagai wahana kesadaran. Hati memiliki lapisan-lapisan. Bila zikir dilakukan terus menerus, zikir akan masuk menembus lapisan demi lapisan yang ada dalam hati. Melalui praktik zikir, terjadilah suatu proses semakin lapangnya hati, dan hati menjadi bersih cemerlang, sehingga hati menjadi tempat melihat rahasia- rahasia esoteris

Dalam praktik zikir, pencari kebenaran mendapat alat untuk secara berangsur membuka lapis demi lapis batin hati dan untuk mengalami keadaan sadar yang baru. Keadaan ini berbeda dari persepsi waktu,ruang, dan sekuen logis yang horisontal. Seorang modern yang mencari kebenaran, yang melakukan khalwah ( pengasingan diri ) selama empat puluh hari, berkomentar tentang efek dan zikir yang dilakukannya terus-menerus sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalamannya : “Aku mesti banyak berzikir. Namun, apa sih banyak itu? Biasanya dalam hidup ini aku menggunakan otak dan persepsi. Sedangkan zikir bekerja di tingkat intuisi. Di sini kami menghadapi dimensi-dimensi lain di mana ” akal adalah perbudakan,” dan yang terpikir adalah mencampakkannya.”

Zikir dan meditasi ( muraqabah), dua praktik yang saling berkaitan, melahirkan pengalaman keabadian yang bebas dari perubahan dan keanekaragaman ( tawin). Sebab perubahan dan keanekaragaman merupakan efek dari waktu. Pengalaman ini bergaung dalam syair rumi berikut ini:

Ketika bersama kelompok pilihan itu, aku mulai bermeditasi, keluar dari diriku. Jiwa lepas dari waktu, waktu yang membuat muda jadi tua.perubahan terjadi karena waktu : Barangsiapa tidak di dalam waktu, dia tidak mengalami perubahan.

Duhai hatiku, keluarlah dari waktu untuk sementara, nikmati keabadian.

Duhai hatiku, keluarlah dari waktu untuk sementara agar bebas dari “bagaimana” dan ” kenapa.”

Waktu tak mengetahui sifat Tampa waktu, karena Mukjizat sajalah yang dapat mengantar ke sana.

Berulang-ulang mengalami dimensi tampa waktu dan tampa ruang lewat zikir, mengembangkan kesadaran, yang merupakan esensi dari pengalaman esoteris, bahwa ternyata zona eksistensi ternyata lebih banyak daripada yang diketahui pikiran kebanyakan orang.

Pada hakikatnya, zikir mengalir dari zona kegembiraan Illahi, dan karena itu, ketika zikir turun ke hati, zikir membangkitkan kegembiraan. Jika zikir tidak berpadu dengan kegembiraan diri rendah ( nafs ), zikir akan sempurna dan murni, namun bila diri berpadu dengan zikir, maka pertolongan Illahi yang datang dari Yang Di ingat terputus, dan zikir pun kandas dalam kegembiraan diri yang keruh lagi suram.

Orang-orang yang sangat mendambakan kesucian akan menemukan kenikmatan dalam zikir semata, karena diri mereka sudah menjadi tawanan hati mereka. diri rendah mereka seakan dikepung oleh pengetahuan esoteris sehingga tak mampu bergerak leluasa mencari kesenangannya sendiri.

Jika zikir dilakukan oleh orang yang memiliki “tempat” dan hubungan mesra di zona-zona yang lebih tinggi, maka hati akan berhenti merenungkan zikir, dan matanya pun akan melihat Yang Diingat saja. Jika hati asyik dengan Yang Diingat, maka tak ada ruang dalam hati untuk merenungkan zikir.

Derajat dan tahap hati bermacam-macam : Hati abid biasanya mengambang di udara saja. Hati ini tidak dapat membubung sangat tinggi, karena hasrat duniawi hati ini menarik hati ini untuk turun ke bawah.

Hati pencari kebenaran membubung dan kemudian berhenti, sesuai dengan derajatnya. dimana hati ini berhenti di situlah derajatnya. Hati ini juga ditahan oleh kecenderungan duniawi dan terbebani beragam hasrat.

Hati orang yang berhenti dekat Arsy. Hati ini juga tertahan oleh sisa-sisa hasrat yang masih ada di hati, dan hati ini juga tak mungkin mencapai Tempat Tuhan.

Namun, hati orang suci dan pilihan dapat mencapai tempat-Nya – orang-orang ini memiliki hubungan yang sempurna dan zikir yang murni. Mereka adalah orang-orang yang di bicarakan Musa ketika mengatakan,” Ya Allah, apakah Engkau dekat sehingga aku bisa berhubungan dengan-Mu, atau apakah Engkau jauh sehingga aku harus menyeru-Mu?” Allah berfirman, “Aku bersama orang-orang yang mengingat-Ku”

( Dr. Sara Sviri )

putritidur

About evadailami

Hamba Allah yang ingin banyak belajar dari kalian

Posted on May 23, 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: