Hakekat TAkdir

Persoalan takdir adalah persoalan yang berkaitan dengan rukun iman yang merupakan prinsip utama dalam ajaran islam, artinya seorang muslim wajib meyakini adanya takdir dari Allah Swt terhadap alam semesta dan juga terhadap dirinya. Siapa saja yang tidak meyakini adanya takdir, maka tidak bisa disebut mukmin yang benar. Keyakinan terhadap adanya takdir dari Allah Swt sebagai salah satu rukun iman dinyatakan dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Umar bin Khattab.

Takdir dan ikhtiar

Sucikanlah nama Illahmu yang paling tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan ciptaan-Nya dan yang menentukan takdir memberi petunjuk bagi pelaksanaannya.” ( QS .87 : 1-3)

Dan bahwasanya manusia tidak memperoleh apapun selain apa yang sudah ia usahakan.” ( QS.53:39)

Takdir adalah ketetapan Allah Swt bagi makhluknya dan merupakan hal ghaib, hanya Allah Swt yang mengetahui. Manusia wajib percaya bahwa Allah Swt Maha Adil dan Maha Penyayang. Dia menciptakan takdir bukan untuk main-main, tetapi mengandung hikmah dan rahmah bagi manusia. Memang tiada sesuatu yang terjadi di alam semesta kecuali sudah ada ketetapannya di buku “Lauhul Mahfuz” “ Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tiada pula ada di dirimu sendiri, melainkan sudah tertulis di buku Lauhul Mahfuz. sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah Swt maka kamu jangan berduka cita terhadap apa yang sudah luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang kamu peroleh dan Allah Swt tidak suka pada orang yang sombong lagi membanggakan diri.” ( QS.57:22-23)

Dari ayat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa semua peristiwa sudah ditetapkan terlebih dahulu di buku Lauhul Mahfuz sebagai :

* Sunatullah – Peraturan Allah Swt yang harus dipatuhi oleh makhluknya: sistem, sifat, fungsi, dan bentuk.

* Takdir-Ketetapan Allah Swt mengenai kejadian, peristiwa , dan nasib yang akan muncul.

* Qadha- Takdir yang sudah tiba waktunya yang pasti berlaku atau sedang berjalan. Entah sudah berapa lama takdir dan sunatullah itu terhimpun di Lauhul Mahfuz, namun ia tidak akan mengalami pergantian atau perubahan sedikitpun karena sesuatu, kecuali jika Allah Swt menghendakinya.

“…...Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui penggantian bagi sunatullah, juga sekali-kali kamu tidak akan menemui penyimpangan bagi sunatullah”. (Qs.35:43)

” …..Sesungguhnya Allah Swt berbuat apa yang Ia Inginkan.” ( QS:22:14)

“Allah menghapuskan apa yang dia menghendaki dan menetapkan pula apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat umul kitab ( Lauhul Mahfuz)” ( QS:13:39)

Kita yakin bahwa peristiwa dan kejadian yang sudah, sedang dan yang akan muncul sudah ada pada ilmu Allah Swt Pada setiap saat manusia berada, sudah di gariskan untuknya sejumlah takdir. hanya Allah Swt yang mengetahui jumlah takdir yang digariskan. Ada di antaranya takdir mengenai perbuatan yang hasilnya buruk, dan tiap akdir ada sebab musabahnya . Apabila manusia itu melatih diri, jiwa, otak dan hatinya untuk menjadi bersih maka Allah Swt akan menunjukkan/mengilhamkan kepadanya suatu perbuatan yang menimbulkan hasil yang baik. Sebaliknya bila ia mengotori dirinya, maka diri yang kotor itu tertutup dari petunjuk Allah Swt dan saatnya bisikan syaitan masuk dan mengilhami perbuatan yang menimbulkan takdir yang buruk. Dalam Al-Qur’an dijelaskan: “…..Sesungguhnya Allah Swt tidak akan merubah apa yang ada untuk seorang ( kaum), sebelum orang itu (kaum itu) merubah apa yang ada pada dirinya….(QS.13:11)

Apa yang sudah ditetapkan untuk manusia: nasib, rizki, kedudukan, jodoh, menang, kalah, bahagia, menderita, dan semua itu sudah ditakdirkan bagi manusia, hanya Allah Swt yang bisa merubahnya.

Dan yang ada pada diri manusia niat, ilmu, usaha,amal, iman, taqwa, akhlak dan prilaku. Karena manusia memiliki hasrat, mampu membedakan, mampu memilih dan berbuat, maka dalam hal niat, usaha, akhlak dan prilaku manusia memiliki andil besar untuk merubahnya. Al-Qur’an menjelaskan: ” Barang siapa berbuat baik maka hasilnya untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat buruk ialah yang akan merasakan akibatnya dan Tuhanmu tidak sama sekali menzalimi hamba-Nya” (QS:41:46)

Manusia bebas memilih dan berusaha, namun kebebasan itu masih dalam ruang lingkup kekuasaan Allah Swt yang mutlak. Manusia telah dikaruniai Allah Swt kebebasan untuk bertindak tapi dalam batas qudrat dan iradat Allah Swt. Bagaimana cara proses serta hasilnya itu bukan urusan manusia. Yang penting bagi manusia bagaimana menggunakan kebebasan itu untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Bagaimana manusia dapat bertindak sesuai dengan sunatullah peraturan Allah Swt. itu yang harus kita utamakan.

Kebebasan yang terbatas itu sudah cukup menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bebas untuk memanfaatkan isi alam semesta. Bahkan kebebasan yang terbatas yang dikaruniakan kepadanya dapat menjadi sebab musabab perubahan takdir yang telah ditetapkan baginya.

Hadits Nabi menjelaskan bahwa: ” Tidak ada suatu yang dapat menolak suatu qadha (takdir yang tiba waktu pelaksaannya) kecuali do’a dan tidak ada sesuatu yang dapat memperpanjang umur seseorang kecuali perbuatan yang baik”.

Pada hadits lain dikatakan: ” Tiap akhir malam sebelum subuh Allah Swt mendekati manusia dan berkata” Barang siapa yang berdoa kepada-Ku pasti Aku kabulkan doa nya, barang siapa yang meminta kepada-Ku, pasti Aku akan penuhi permintaannya. Barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, pasti Aku akan ampuni dia.”

Al Qur’an menjelaskan masalah takdir dan ikhtiar.

” Sesungguhnya usaha kamu bermacam-macam, adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan adanya kebaikan, maka kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup dan mendustakan adanya kebaikan, maka kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” (QS.92:4-10)

Usaha manusia beraneka ragam, ada yang berkecimpung dalam bidang pertanian, peternakan, perindustrian, dan lain sebagainya. Perbedaan terjadi pada hakikat, hasrat, tujuan dan hasilnya. Walaupun terdapat perbedaan yang begitu rumit, namun usaha itu dapat dikelompokan menjadi dua macam yaitu:

1. Kelompok usaha seorang yang pemurah, bertaqwa dan membenarkan adanya kebaikan.

2. Kelompok usaha seorang yang kikir (bakhil), tidak memerlukan bantuan Allah Swt dan mendustakan adanya kebaikan.

Seseorang yang pemurah bisa diartikan memberi hartanya di jalan Allah Swt untuk membersihkan diri hingga usahanya menjadi lancar. Dapat juga di artikan bahwa orang itu memberi segala yang di butuhkan mengenai perencanaan yang baik yang sesuai dengan sunatullah, persiapan yang cukup yang diberkati Allah Swt dan pelaksanaan yang amat jauh dari larangan Allah Swt. Seseorang yang bertaqwa bisa diartikan taqarrub kepada Allah Swt, ridha Allah Swt selalu bersamanya. Bisa juga diartikan bahwa ia menjalankan usahanya dengan sungguh-sungguh. Hadits Nabi Muhammad Saw : “Berbuatlah untuk kehidupan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan berbuatlah untuk kehidupan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”.

Perbuatan manusia sudah di takdirkan, sebelum manusia diciptakan. Manusia tidak mampu menciptakan suatu perbuatan, manusia hanya memilih salah satu perbuatan yang sudah ada di buku Lauhul Mahfuz. Apabila jiwa manusia sudah dibersihkan maka ia ditakdirkan memilih perbuatan yang menghasilkan kebahagiaaan dan sebaliknya jiwa yang kotor akan memilih perbuatan yang menghasilkan kerugian baginya.

Manusia berusaha membersihkan jiwa sehingga layak untuk menerima “iman” dan jiwa yang tidak dibersihkan sepantasnya mendapatkan kufur. Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an : “…..Dan siapa yang disesatkan Allah Swt maka tidak seorangpun memberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Swt. Maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya…(QS.39:36)

Masalah hidayah dan kufur ditangan Allah Swt, manusia tidak memiliki hak untuk memberi hidayah atau kufur kepada dirinya atau kepada orang lain. Manusia hanya bisa berusaha dengan usahanya itu Allah Swt akan menentukan hidayah atau kufur baginya sesuai perilaku dan usahanya.

( Said Salim Bawazier)

About evadailami

Hamba Allah yang ingin banyak belajar dari kalian

Posted on May 23, 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: